Rabu, 08 Juni 2022

JURNAL AGROTEKNOLOGI UIR "PENGARUH DARAH SAPI YANG DIFERMENTASI DAN SUPER GIB CAIR TERHADAP PERTUMBUHAN SERTA PRODUKSI TERUNG TELUNJUK (Solanum melongena .L)

 

PENGARUH DARAH SAPI YANG DIFERMENTASI  DAN SUPER GIB CAIR TERHADAP PERTUMBUHAN SERTA PRODUKSI 

TERUNG TELUNJUK (Solanum melongena .L)

 

Adriana Zetania, Hasan Basri Jumin, Zulkifli

Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian Universitas Islam Riau

Jl. Khaharuddin Nasution No.113 Pekanbaru. 28284

Telp: 0761-674681; Fax: 0761-674681

 

 

ABSTRAK

 

Adriana Zetania (134110102), penelitian dengan judul Pengaruh Darah Sapi Yang Difermentasi Dan Super Gib Cair Terhadap Pertumbuhan Serta Produksi Terung Telunjuk (Solanum melongena. L). Dibawah bimbingan Prof. Dr. Ir. Hasan Basri Jumin, M.Sc sebagai pembimbing I dan Ir. Zulkifli, MS sebagai pembimbing II. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh darah sapi yang difermentasi dan super gib cair terhadap pertumbuhan serta produksi terung telunjuk (Solanum melongena. L), baik secara interaksi maupun pengaruh utama.

Penelitian  ini telah dilaksanakan di Kebun Percobaan   Fakultas Pertanian,  Universitas Islam  Riau,  Jalan  Kaharuddin  Nasution, Km 11 N0. 113, Kelurahan Air Dingin , Kecamatan Bukit Raya, Kota Pekanbaru. Waktu penelitian telah  dilaksanakan selama 4 bulan, dimulai dari bulan  April 2017 – Juli 2017. Penelitian  ini  menggunakan  Rancangan   Acak  Lengkap (RAL) faktorial yang  terdiri dari dua faktor, faktor  pertama yaitu Darah sapi yang difermentasi (D) terdiri dari 4 taraf yaitu 0, 100, 200, 300 ml/l air. dan faktor kedua yaitu Super Gib cair (S) yang terdiri dari 4 taraf yaitu 0, 0,1, 1,0, 10 ml/l air Parameter yang diamati adalah tinggi tanaman, laju pertumbuhan relatif (LPR), laju asimilasi bersih (LAB), umur berbunga, umur panen, berat buah per tanaman, jumlah buah per tanaman, jumlah buah sisa.

                Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara interaksi pengaruh darah sapi yang difermentasi dan super gib cair berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, laju  pertumbuahan relatif (LPR), laju asimilasi bersih (LAB), umur berbunga, umur panen, berat buah per tanaman. Perlakuan terbaik adalah darah sapi yang difermentasi dengan konsentrasi 200 ml/l air dan super gib cair dengan konsentrasi 1,0 ml/ l air dan (D2S2)). Pengaruh utama darah sapi yang difermentasi berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, laju pertumbuahan relatif (LPR), laju asimilasi bersih (LAB), umur berbunga, umur panen, berat buah per tanaman, jumlah buah per tanaman, jumlah buah sisa.  Perlakuan terbaik adalah darah sapi yang difermentasi dengan konsentrasi 200 ml/ l air (D2). Pengaruh utama super gib cair berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, laju pertumbuahan relatif (LPR), laju asimilasi bersih (LAB), umur berbunga, umur panen, berat buah per tanaman, jumlah buah per tanaman, jumlah buah sisa perlakuan terbaik adalah super gib cair dengan konsentrasi 1,0 ml/ l air (S2).

 


PENDAHULUAN

Terung  (Solanum melongena L.)  merupakan tanaman asli daerah tropis. Tanaman ini berasal dari Asia Tenggara terutama Negara India dan Birma. Dikawasan  ini terdapat aneka jenis terung, baik yang dibudidayakan maupun yang  tumbuh  secara  liar. Kandungan  khasiat  terung agak sederhana. Dalam tiap 100 gram (g) bagian yang  boleh dimakan mengandung : air 91.2 g, protein 1.7 g, lemak 0.1 g, karbohidrat 5.6 g, serat 1.0 g, kalsium 25 miligam (mg), fosforus 20  mg, ferum 0.6 mg,  karotena 90 ug, vitamin A 15 ug, vitamin B1 0.07 mg, vitamin  B2 0.05 mg,  niasin 0.7 mg dan vitamin C 18.4 mg. Terung mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi dan telah mampu menerobos pasaran ekspor. Terung sangat potensial untuk dikembangkan dengan meningkatkan produktifitasnya.

Data Badan  Pusat  Statistik Provinsi Riau menunjukkan produksi tanaman  terung  pada  tahun  2014  mencapai  14.885 ton,  sedangkan  pada  tahun 2015  produksi tanaman terung  mengalami peningkatan 120.997 ton (Anonimus, 2015).  Rendahnya  produksi  tanaman  terung di Riau  antara  lain  disebabkan oleh sistem budidayanya masih belum dikembangkan  secara  intensif, serta belum  menggunakan  teknologi  yang  tepat.

Perkembangan budidaya tanaman terung di daerah Riau  masih  belum begitu luas  karena  tanaman  terung umumnya hanya diusahakan sebagai tanaman  sampingan bukan sebagai tanaman utama dengan cara bercocok tanam yang  belum intensif, sehingga produksi tanaman terung masih tergolong  rendah. Di samping itu  juga disebabkan  oleh  tingkat kesuburan tanah  di  daerah  Riau yang umumnya tergolong rendah. Salah satu usaha untuk mengatasi permasalahan di Riau terkait dengan tanah yaitu dengan penggunaan pupuk organik dan zat pengatur tumbuh.

Teknik budidaya  yang  baik, yaitu  dengan  pemupukan,  pupuk  yang  tepat dan  teratur dapat diberikan melalui tanah dan dapat juga diberikan melalui bagian dari tanaman  itu sendiri  seperti  melalui daun tanaman. Pemberian pupuk melalui tanah dapat menggunakan pupuk organik. Selain juga memberikan keuntungan dalam penghematan tenaga kerja, biaya dan dapat memberikan beberapa jenis unsur  salama satu kali pemupukan yaitu unsur nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K). Nitrogen  dalam  tumbuhan  merupakan unsur  yang sangat penting untuk  pembentukan protein daun dan senyawa lainnya. Di samping  itu  juga berperan dalam perkembangan vegetatif tanaman terutama pada waktu  muda.

Salah satu sumber daya lokal adalah limbah darah sapi dari rumah potong hewan sapi. Dirumah potong hewan ini darah sapi hasil pemotongan hewan  langsung dibuang tanpa diolah terlebih dahulu sehingga berpotensi menjadi  limbah yang dapat mengganggu lingkungan. Padahal jika diolah dengan baik, darah sapi memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi, antara lain menjadi tepung darah untuk suplai pakan ternak ikan dan udang ataupun pupuk tanaman.

Persentase darah didalam tubuh hewan sapi adalah sekitar 3,5-7% dari total  berat  tubuhnya. Komponen unsur-unsur kimia yang terkandung dalam darah  sapi  antara  kandungan  nitrogen 12,18%,  fospor 5,28%,  kalium 0,15% dan  karbon-organik 19,01% (Abrianto, 2011).  Namun  untuk   menjadikan darah sapi  sebagai  pupuk organik dalam bentuk cair dapat dilakukan fermentasi terlebih dahulu, dengan berkembangnya teknologi untuk mempercepat proses fermentasi  bahan organik  dengan   menggunakan  Effective Microorganism (EM-4) yang dikenal  dengan  nama produk bokashi. Bokashi merupakan hasil fermentasi bahan organik dengan EM-4 yang dapat digunakan sebagai pupuk organik  untuk meningkatkan  kesuburan  tanah  dan  meningkatkan  pertumbuhan  dan hasil tanaman (Safei, 2014). Komponen  unsur-unsur kimia yang  terkandung  dalam darah sapi yang sudah difermentasikan meggunakan bahan organik (EM4) antara kandungan N (25.7 ppm), P (196 ppm), K (608 ppm), Mg (107 ppm) (Putriyani, 2016).

Hasil penelitian Arinong dan lesiwua (2011) limbah darah sapi berpengaruh bagi pertumbuhan, tinggi  tanaman,  pertambahan   jumlah daun dan produksi tanaman  sawi.  Perlakuan   terbaik  adalah  dengan  menggunakan 75 ml  pupuk  organik  cair  darah sapi yang dicampurkan dengan 1 liter air. Begitu   juga pada penelitian Ani Putri Yani (2016) Pupuk organik darah sapi cair   memberikan pertumbuhan yang lebih baik dan berpengaruh nyata terhadap   semua parameter pengamatan pada tanaman seledri dengan dosis terbaik 100 ml/liter air.

Untuk mendukung pertumbuhan terung agar dapat tumbuh dan berkembang dengan baik maka perlu adanya penambahan zat pengatur tumbuh dengan cara pemberian hormon tanaman seperti Super Gib Cair. Hormon tanaman adalah senyawa-senyawa organik tanaman yang dalam konsentrasi yang rendah  mempengaruhi  proses-proses  fisiologis.

 Super Gib Cair merupakan hormon pertumbuhan yang pada tanaman mempunyai beberapa pengaruh pertumbuhan, antara lain Pertumbuhan dan perkembangan, pemanjangan batang, terlibat dalam pembungaan dan terlibat pada  proses,  perkecambahan biji,  salah  satu efek yang  paling  nyata dari Super Gib adalah  memodifikasi  pertumbuhan  tanaman,  meningkatkan proses fotosintesis dan lain-lain (Hidayati, 2015).

Dengan menggunakan darah sapi yang difermentasi untuk meningkatkan  pertumbuhan  dan  hasil  produksi  tanaman terung telunjuk akan dapat ditekan atau pun bisa lebih maksimal apabila dikombinasikan dengan zat pengatur tumbuh Super Gib Cair.  Dari uraian tersebut penulis telah melakukan penelitian dengan judul : “Pengaruh Darah Sapi  yang Difermentasi dan Super Gib Cair Terhadap Pertumbuhan Serta Produksi Terung Telunjuk (Solanum melongena L.)”.

METODE PENELITIAN

Penelitian  ini telah dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian,  Universitas  Islam  Riau, Jalan  Kaharuddin  Nasution, Km 11 N0. 113, Kelurahan Air Dingin, Kecamatan Bukit Raya, Kota Pekanbaru. Waktu penelitian telah  dilaksanakan selama 4 bulan, dimulai dari bulan April 2017 – Juli 2017.

Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih terung telunjuk varietas SM 152 (lampiran 3), darah sapi yang difermentasi (lampiran 4), Super Gib Cair 20 SL, NPK mutiara,  Decis,  furadan 3G, Dithane M-45, Regent,Microorganisme-4 (EM4), gula merah, polybag, papan nama penelitian, paku, tali plastik. Sedangkan alat-alat yang digunakan adalah cangkul, parang, sabit, garu, meteran, handsprayer, gembor, jeregen, ember, timbangan analitik, martil, gergaji, kamera, alat-alat tulis dan lain-lain.

Penelitian  ini  menggunakan  Rancangan   Acak  Lengkap (RAL) faktorial yang  terdiri dari dua faktor, faktor  pertama yaitu Darah sapi yang difermentasi (D) yang terdiri dari 4 taraf dan faktor kedua yaitu Super Gib Cair (S) terdiri dari 4 taraf, sehingga didapat 16 kombinasi perlakuan. Setiap kombinasi perlakuan diulang 3 kali, sehingga diperoleh 48 satuan percobaan. Setiap satuan percobaan terdiri dari 8 tanaman dan 6 tanaman sebagai sampel, sehingga total keseluruhan tanaman berjumlah 384 tanaman. Data hasil pengamatan terakhir dari masing-masing perlakuan dianalisis secara statistik, apabila F hitung lebih besar dari F tabel maka dilanjutkan dengan uji lanjut BNJ (Beda Nyata Jujur) pada taraf 5%.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tinggi Tanaman (cm)

Hasil pengamatan terhadap tinggi tanaman terung telunjuk setelah dilakukan analisis ragam memperlihatkan bahwa baik secara interaksi maupun pengaruh utama darah sapi yang difermentasi dan super gib cair memberikan pengaruh nyata. Rata-rata tinggi tanaman setelah di uji lanjut BNJ pada taraf 5% dapat dilihat dari tabel 2.


Tabel 2. Rata-rata tinggi tanaman  dengan  perlakuan darah sapi yang difermentasi dan super gib cair (cm).

Darah Sapi yang difermentasi (ml/L)

Super Gib Cair

(ml/L)

RERATA

0 (S0)

0,1 (S1)

1,0 (S2)

10 (S3)

0 (D0)

58,35 d

61,67 cd

61,98 cd

63,95 a-c

61,49 c

100 (D1)

61,83 cd

62,37 cd

64,66 a-c

63,75 a-c

63,15 ab

200 (D2)

62,56 b-d

62,99 bc

68,12 a

64,07 a-c

64,43 a

300 (D3)

62,63 b-d

62,98 bc

66,83 ab

62,23 cd

63,67 ab

RERATA

61,34 c

62,50 bc

65,40 a

63,50 b

KK = 2,28 %               BNJ S & D = 1,60                 BNJ SD = 4, 38

Angka pada baris dan kolom yang diikuti huruf kecil yang sama tidak berbeda nyata menurut uji BNJ pada taraf 5%.

               


Berdasarkan data  pada tabel 2, memperlihatkan bahwa interaksi perlakuan  darah sapi yang difermentasi dan pemberian super gib cair memberikan pengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, dimana dihasilkan pada kombinasi pemberian  darah sapi yang difermentasi dengan konsentrasi 200 ml/l dan pemberian  super  gib cair dengan konsentrasi 1,0 ml/l  tertinggi yaitu 68,12 cm, tidak berbeda nyata dengan perlakuan (D3S2), (D1S2),  (D0S3), (D1S3), (D2S3) dan berbeda nyata dengan semua kombinasi perlakuan lainya, tinggi tanaman  terendah  dihasilkan pada tanpa perlakuan  yaitu 58,35 cm.

Dihasilkan tinggi tanaman tertinggi pada perlakuan D2S2, hal ini dikarenakan ada unsur yang terkandung pada darah sapi yang difermentasi dan ditambah lagi yang terdapat pada super gib cair, lebih mampu memberikan sumber unsur hara yang ada untuk pertumbuhan tinggi tanaman terung telunjuk hingga diperoleh tinggi tanaman yang maksimal. Pupuk baku darah sapi  berperan  dalam  memperbaiki sifat fisik, kimia, biologi tanah.

Terjadinya  penambahan  tinggi  tanaman dari  suatu tanaman disebabkan karena berlangsungnya peristiwa pembelahan dan pemanjangan sel yang dipacu oleh pemberian hara. Akibatnya aktivitas metabolisme dalam jaringan tanaman menghasilkan bahan organik yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan tinggi tanaman. Iskandar (2003) menyatakan tanaman akan tumbuh dengan baik apabila unsur hara tersedia cukup bagi tanaman. pemberian nutrisi merupakan  salah  satu  cara untuk  memenuhi  kebutuhan hara, tujuan ini baru akan  tercapai  bila  memperhatikan konsentrasi dalam pemberian nutrisi dan unsur hara yang dikandung.

Super gib cair mengandung hormon giberelin sebagaimana diketahui hormon giberelin berfungsi sebagai pengatur pembesaran sel dan memacu pemanjangan sel di daerah meristem sehingga pertumbuhan tinggi tanaman dapat optimal. Pemberian zat pengatur tumbuh bertujuan untuk mempercepat proses pertumbuhan fisiologis pada tanaman yang memungkinkan tersedianya bahan pembentuk organ vegetatif, sehingga dapat meningkatkan zat hara yang tersedia bagi tanaman.  

Laju Pertumbuhan Relatif (gram/hari)

Hasil pengamatan terhadap laju pertumbuhan relatif  tanaman  terung telunjuk pada umur 14-21, 21-28, 28-35 HST setelah dilakukan analisis ragam memperlihatkan bahwa baik secara interaksi maupun pengaruh utama Darah  Sapi yang difermentasi dan Super Gib cair memberikan  pengaruh yang  nyata terhadap laju pertumbuhan relatif tanaman terung telunjuk. Rata-rata laju  pertumbuhan  relatif setelah di uji lanjut BNJ pada taraf 5% dapat dilihat dari tabel 3 .


Tabel  3. Rata-rata Laju pertumbuhan Relatif dengan perlakuan darah sapi yang difermentasi dan super gib cair (gram/hari).

HST

Darah Sapi yang difermentasi

(ml/L)

Super Gib Cair

(ml/L)

Rata-rata

0 (S0)

0,1 (S1)

1,0 (S2)

10 (S3)

 

 

14 - 21

 

0 (D0)

0,181 e

0,194 de

0,285 a-c

0,250 cd

0,227 c

100 (D1)

0,202 de

0,251 cd

0,320 ab

0,288 a-c

0,265 b

200 (D2)

0,271 bc

0,320 ab

0,343 a

0,329 ab

0,316 a

300 (D3)

0,286 a-c

0,309 a-c

0,320 ab

0,313 a-c

0,307 a

Rata-rata

0,235 c

0,269 b

0,317 a

0,295 a

 

KK = 7,48 %               BNJ S & D = 0,02311      BNJ SD = 0,06344

 

 

 

 

 

21-28

 

Darah Sapi yang difermentasi

(ml/L)

Super Gib Cair

(ml/L)

Rata-rata

0 (S0)

0,1 (S1)

1,0 (S2)

10 (S3)

0 (D0)

0,086 g

0,093 fg

0,100 e-g

0,103 e-g

0,096 d

100 (D1)

0,095 fg

0,109 d-f

0,107 ef

0,104 e-g

0,104 c

200 (D2)

0,107 e-g

0,129 b-d

0,157 a

0,130 bc

0,131 a

300 (D3)

0,106 e-g

0,111 c-f

0,137 ab

0,120 b-e

0,118 b

Rata-rata

0,099 c

0,111 b

0,125 a

0,114 b

 

KK = 6,12 %               BNJ S & D = 0,00761                 BNJ SD = 0,02090

 

 

 

 

 

28-35

 

Darah Sapi yang difermentasi

(ml/L)

Super Gib Cair

(ml/L)

Rata-rata

0 (S0)

0,1 (S1)

1,0 (S2)

10 (S3)

0 (D0)

0,145 h

0,155 h

0,160 gh

0,170 f-h

0,158 d

100 (D1)

0,169 f-h

0,168 gh

0,225 a-d

0,179 e-h

0,185 c

200 (D2)

0,216 a-e

0,230 a-c

0,257 a

0,243 a-c

0,236 a

300 (D3)

0,185 d-h

0,201 c-g

0,251 ab

0,212 b-f

0,212 b

RERATA

0,179 c

0,189 bc

0,223 a

0,201 b

 

KK = 7,13 %               BNJ S & D = 0,01565                 BNJ SD = 0,043

Angka pada baris dan kolom yang diikuti huruf kecil yang sama tidak berbeda nyata menurut uji BNJ pada taraf 5%.


Berdasarkan data  pada  tabel  3, memperlihatkan  bahwa  interaksi  perlakuan darah sapi yang difermentasi dan pemberian super gib cair memberikan pengaruh terhadap laju pertumbuhan relatif 14-21 HST, dimana  perlakuan terbaik dihasilkan  pada  kombinasi darah sapi yang difermentasi 200 ml/l dan pemberian super gib cair  1,0 ml/l (D2S2) dengan  laju  pertumbuhan  relatif  terbaik  yaitu  0,343 gram/hari, tidak berbeda nyata dengan perlakuan (D2S3), (D2S1), (D3S2), (D1S2), (D3S3), (D3S1), (D3S0), (D1S3), (D0S2) dan berbeda nyata dengan semua kombinasi perlakuan lainya, sedangakan laju  pertumbuhan relatif paling rendah dihasilkan dari perlakuan D0S0 yaitu 0,181 gram/hari.

Sedangkan laju pertumbuhan relatif 21-28 hst memperlihatkan bahwa interaksi perlakuan darah sapi yang difermentasi dan pemberian super gib cair memberikan pengaruh yang nyata, dimana perlakuan terbaik dihasilkan pada kombinasi  darah sapi yang difermentasi 200 ml/l dan pemberian super gib cair  1,0 ml/l (D2S2)  dengan laju pertumbuhan  relatif  terbaik  yaitu  0,157 gram/hari, dan  tidak berbeda nyata dengan perlakuan (D3S2)  yaitu 0,137. Berbeda nyata dengan semua kombinasi perlakuan lainnya, sedangkan laju  pertumbuhan  relatif  paling  rendah  dihasilkan  dari  perlakuan (D0S0) yaitu 0,086 gram/hari.

Laju pertumbuhan  relatif  28-35 HST memperlihatkan bahwa interaksi perlakuan darah sapi yang difermentasi dan pemberian super gib cair memberikan pengaruh yang nyata, dimana perlakuan terbaik dihasilkan pada kombinasi darah sapi yang difermentasi 200 ml/l dan pemberian super gib cair  1,0 ml/l (D2S2)  dengan  laju  pertumbuhan  relatif  terbaik yaitu 0,257 gram/hari, dan tidak berbeda nyata dengan perlakuan (D3S2), (D2S3), (D2S1), (D2S0), (D1S2) dan berbeda nyata dengan semua kombinasi perlakuan lainya, sedangkan laju  pertumbuhan relatif  paling  rendah dihasilkan dari perlakuan D0S0 yaitu 0,145 gram/hari.

Nilai laju  pertumbuhan relatif pada umur tanaman 14-21 dan 28-35 HST nilai yang dihasilkan  pada  perlakuan  pemberian darah sapi yang difermentasi dan super  gib cair  telah mampu meningkatkan  aktivitas  mikroorganisme  yang  dapat juga meningkatkan proses dekomposisi dan mineralisasi yang menyebabkan ketersediaan  unsur hara didalam tanah. Dijelaskan oleh Salisburry dan Ross (1996), pertumbuhan suatu  tanaman akan optimal apabila unsur yang dibutuhkan tersedia dalam jumlah dan bentuk yang sesuai dengan kebutuhan tanaman.

Penurunan laju pertumbuhan relatif pada umur 21-28 HST dan 28-35 HST dipengaruhi beberapa faktor yaitu fotosintesis, struktur kanopi dan lingkungan, dimana faktor lingkungan lebih erat hubungannya dengan nutrisi yang diserap maupun distribusi nutrisi ke bagian organ tanaman dan struktur kanopi berhubungan dengan fotosintesis, dimana fotosintesis menghasilkan metabolit primer yang dipakai untuk metabolisme tanaman sehingga terjadi pertumbuhan dan perkembangan. Di samping itu, metabolit primer digunakan untuk menyusun metabolit sekunder yang mendukung pada proses adaptasi dan proteksi tanaman.

Pada saat LPR 14-21 HST (13-20 mei 2017) suhu udara, intensitas cahaya dan kelembaban udara yang relatif stabil, dan pada saat 14-21 HST curah hujan juga cukup rendah. Sedangkan pada saat 21-28 HST dan 28-35 HST (20 Mei- 03 juni 2017) suhu udara tinggi, intensitas cahaya dan curah hujan yang relatif tidak stabil. Dimana hal ini sesuai dengan pendapat Firmanto (2011),bahwa tanaman terung bisa tumbuh pada musim kering (kemarau) dan rata-rata curah hujannya rendah, bila suhu udara tinggi akan mempengaruhi pertumbuhan, pembungaan dan pembuahan terung akan terganggu yakni bunga dan buah akan berguguran.

Terjadinya penurunan pada 21-28 HST dan 28-35 HST ini juga terkait pada serangan hama ulat grayak yang mampu merusak daun dan dapat mengurangi bobot kering dan luas daun tanaman. Fotosintesis akan meningkatkan berat kering tanaman karena pengambilan C02, sedangkan proses katabolisme respirasi menyebabkan pengeluaran O2 dan mengurangi berat kering tanaman , 90% bahan kering tanaman adalah hasil fotosintesis.

Faktor akumulasi pada tanaman juga menjadi akibat turunnya laju pertumbuhan relatif pada umur 21-28 hst, yang diduga akibat pemberian super gib cair yang diberikan dengan selang waktu yang cukup dekat jarak pemberiannya yaitu 7 hari dan dilakukan sebanyak 6 kali, ini menyebabkan tanaman mengalami akumulasi atau penyusutan laju pertumbuhan tanaman, dan setelah beberapa minggu setelah itu tanaman mulai beradaptasi kembali setelah pemberian perlakuan super gib cair dan pertumbuhan menjadi meningkat kembali. Nutrisi yang diberikan juga tidak mencukupi kebutuhan tanaman.

 Untuk lebih jelasnya laju pertumbuhan relatif pada tanaman terung telunjuk pada masing-masing hari dengan perlakuan Darah Sapi yang difermentasi dan Super Gib cair dapat dilihat pada gambar 1a.


Laju pertumbuhan relatif (gram/hari)

Gambar 1a. Grafik laju pertumbuhan relatif (gram/hari) tanaman terung telunjuk dengan perlakuan Darah Sapi yang difermentasi dan Super Gib cair.

 

 

 

 



Laju Asimilasi Bersih (gram/cm²/hari)

Hasil pengamatan terhadap laju asimilasi bersih tanaman terung telunjuk pada umur 14-21, 21-28, 28-35 HST setelah dilakukan analisis ragam memperlihatkan bahwa baik secara interaksi maupun pengaruh utama darah sapi yang difermentasi dan super gib cair memberikan pengaruh yang nyata terhadap laju asimilasi bersih tanaman terung telunjuk. Rata-rata laju  asimilasi bersih setelah di uji lanjut BNJ pada taraf 5% dapat dilihat dari tabel 4.


Tabel 4. Rata-rata laju asimilasi bersih dengan perlakuan darah sapi yang difermentasi dan  super gib cair (gram/cm2/hari).

HST

Darah Sapi yang difermentasi

(ml/L)

Super Gib Cair

(ml/L)

Rata-rata

0 (S0)

0,1 (S1)

1,0 (S2)

10 (S3)

 

 

14 - 21

 

   0 (D0)

0,008 f

0,009 ef

0,017 b-d

0,016 cd

0,013 c

100 (D1)

0,009 ef

0,013 de

0,018 a-c

0,018 a-c

0,015 b

200 (D2)

0,012 ef

0,016 cd

0,022 a

0,021 ab

0,018 a

300 (D3)

0,013 de

0,019 a-c

0,019 a-c

0,018 a-c

0,017 a

Rata-rata

0,010 d

0,014 c

0,019 a

0,018 b

 

KK= 8,22%                  BNJ SD = 0,00389               BNJ S&D = 0,00142

 

 

 

 

 

21-28

 

Darah Sapi yang difermentasi

(ml/L)

Super Gib Cair

(ml/L)

Rata-rata

0 (S0)

0,1 (S1)

1,0 (S2)

10 (S3)

   0 (D0)

0,005 d

0,009 a-c

0,008 b-d

0,009 a-c

0,008 b

100 (D1)

0,007 cd

0,009 a-c

0,008 b-d

0,009 a-c

0,008 b

200 (D2)

0,010 a-c

0,008 b-d

0,012 a

0,011 ab

0,010 a

300 (D3)

0,008 b-d

0,010 a-c

0,010 a-c

0,010 a-c

0,010 a

Rata-rata

0,007 b

0,009 a

0,010 a

0,010 a

 

KK= 11,63%                      BNJ SD = 0,00318         BNJ S&D = 0,00116

 

 

 

 

 

28-35

 

Darah Sapi yang difermentasi

(ml/L)

Super Gib Cair

(ml/L)

Rata-rata

0 (S0)

0,1 (S1)

1,0 (S2)

10 (S3)

   0 (D0)

0,023 f

0,024 ef

0,029 b-f

0,032 a-c

0,027 a

100 (D1)

0,025 d-f

0,026 c-f

0,030 b-e

0,032 a-c

0,028 a

200 (D2)

0,024 ef

0,029 b-f

0,037 a

0,030 b-e

0,030 a

300 (D3)

0,026 c-f

0,031 a-d

0,035 ab

0,026 c-f

0,029 a

Rata-rata

0,024 c

0,027 b

0,033 a

0,030 a

 

KK= 6,87%                        BNJ SD = 0,00599           BNJ S&D = 0,00218

Angka pada baris dan kolom yang diikuti huruf kecil yang sama tidak berbeda nyata menurut uji BNJ pada taraf 5%.


Berdasarkan data  pada tabel  4,  memperlihatkan  bahwa  interaksi  perlakuan darah sapi yang difermentasi dan super gib cair memberikan pengaruh  terhadap laju asimilasi bersih 14-21 hst, dimana  perlakuan terbaik dihasilkan pada kombinasi pemberian  darah  sapi yang difermentasi  200 ml/l dan pemberian super gib cair 1,0 ml/l (D2S2) dengan  laju asimilasi  bersih terbaik yaitu 0,022 gram/cm2/hari, dan tidak berbeda  nyata dengan perlakuan (D2S3), (D3S1), (D3S2), (D3S3), (D1S2), (D1S3) dan berbeda dengan semua kombinasi perlakuan lainya, sedangakan laju asimilasi bersih paling rendah dihasilkan dari perlakuan (D0S0) yaitu 0,008 gram/cm2/hari.

Sedangkan laju  asimilasi  bersih 21-28 hst  memperlihatkan  bahwa  interaksi perlakuan darah sapi yang difermentasi dan super gib cair memberikan  pengaruh  yang  nyata, dimana perlakuan terbaik dihasilkan pada kombinasi  darah  sapi yang difermentasi  200 ml/l dan pemberian super gib cair 1,0 ml/l (D2S2) dengan  laju asimilasi  bersih  terbaik  yaitu 0,012 gram/cm2/hari, dan tidak berbeda nyata dengan perlakuan (D2S3), (D3S1), (D3S2), (D3S3), (D2S0), (D1S1), (D1S3), (D0S1), (D0S3) dan berbeda dengan semua kombinasi perlakuan lainya, sedangakan  laju  asimilasi  bersih  paling  rendah  dihasilkan  dari perlakuan (D0S0) yaitu 0,005 gram/cm2/hari.

Dan laju asimilasi bersih 28-35 hst memperlihatkan bahwa interaksi perlakuan darah sapi yang difermentasi dan super gib cair memberikan pengaruh yang nyata, dimana perlakuan terbaik dihasilkan pada kombinasi darah  sapi yang difermentasi  200 ml/l dan pemberian super gib cair 1,0 ml/l (D2S2) dengan  laju  pertumbuhan  relatif  terbaik yaitu 0,037 gram/cm2/hari, dan tidak berbeda nyata dengan perlakuan (D3S2), (D1S3), (D0S3), (D3S1) dan berbeda nyata dengan semua kombinasi perlakuan lainya, sedangakan laju asimilasi bersih paling rendah dihasilkan dari perlakuan (D0S0) yaitu 0,023 gram/cm2/hari.

Pada tabel 4. Menunjukkan laju asimilasi bersih tanaman terung telunjuk mengalami penurunan pada umur 21-28. Penurunan  nilai LAB tanaman terung telunjuk pada umur 21-28  hst ini disebabkan  karena  struktur  kanopi  yang saling menaungi antar daun dan mengakibatkan penurunan laju fotosintesis. Berkurangnya cahaya menyebabkan terjadinya tumpukan nitrogen. Peningkatan nitrat tersebut disebabkan berkurangnya energi yang dibutuhkan oleh enzim nitrat reduktase untuk mereduksi nitrat menjadi nitrit. Penghambatan proses fotosintesis serta tumpukan nitrat pada akhirnya menurunkan produksi biomas tanaman.

Sementara itu pada umur 14-21 laju asimilasi  bersih tanaman terung telunjuk  lebih tinggi dari umur 21-28 hst,  hal ini terjadi karena pada kondisi umur 14-21 hst jumlah daun  tanaman  terung  telunjuk  sedikit, ukuran daun relatif   lebih  kecil  sehingga tidak saling menaungi dan hampir  semua daun masih  efektif   melakukan  fotosintesis.  Luas daun tanaman berpengaruh erat terhadap laju  asimilasi  bersih  tanaman. Daun-daun yang secara aktif melakukan fotosintesis  sangat berpengaruh terhadap laju asimilasi bersih tanaman,  sedangkan  daun-daun yang  tidak  aktif   misalnya daun yang sudah tua atau ternaungi akan menurunkan laju asimilasi bersih.

Pada umur 28-35 hst terjadi  peningkatan,  hal  ini  karna banyaknya daun muda yg  muncul sehingga dapat  meningkatkan  laju  asimilasi bersih tanaman. Sebaliknya, daun-daun yg lebih tua pada dasar tajuk dan terlindung mempunyai laju asimilasi CO2 yang rendah.

Buntoro (2014),menambahkan daun muda mampu  menyerap cahaya paling banyak, memiliki laju fotosintesis yang tinggi, dan  mentranslokasikan  sebagian besar fotosintat ke bagian tanaman yang lain termasuk  pada daun-daun  bagian bawah. Sedangkan pada daun yang berada pada bagian bawah, laju fotosintesis lebih lambat karena ternaungi oleh daun bagian atas.

       Untuk lebih jelasnya laju asimilasi bersih pada tanaman terung telunjuk pada masing-masing hari dengan perlakuan Darah sapi yang difermentasi dan Super Gib cair dapat dilihat pada gambar 2a.


Laju asimilasi bersih (gram/cm²/hari)

Gambar 2a. Grafik laju asimilasi Bersih (gram/cm²/hari) tanaman terung telunjuk dengan perlakuan Darah sapi yang difermentasi dan Super Gib cair.

 


Umur Berbunga (hari)

Hasil pengamatan  terhadap  umur  berbunga  tanaman  terung telunjuk setelah dilakukan analisis ragam memperlihatkan bahwa baik secara  interaksi  maupun pengaruh utama darah sapi yang difermentasi dan super gib cair memberikan pengaruh yang nyata terhadap umur berbunga tanaman terung telunjuk. Rata-rata umur berbunga setelah di uji lanjut BNJ pada taraf 5% dapat dilihat dari tabel 3.


Tabel 5. Rata-rata umur berbunga dengan perlakuan darah sapi yang difermentasi dan super gib cair (hari).

 

Darah Sapi yang difermentasi

(ml/L)

Super Gib Cair

(ml/L)

Rata-rata

0 (S0)

0,1 (S1)

1,0 (S2)

10 (S3)

   0 (D0)

40,50 f

37,67 ef

36,00 c-e

34,17 a-c

37,08 c

100 (D1)

37,83 ef

36,83 de

34,67 a-c

34,83 a-c

36,04 b

200 (D2)

36,00 c-e

35,00 a-d

33,17 a

35,17 b-d

34,83 a

300 (D3)

36,83 de

35,33 b-d

34,00 ab

36,00 c-e

35,54 a

Rata-rata

37,79 c

36,21 b

34,46 a

35,04 a

 

KK= 1,79%                             BNJ SD = 1,95                     BNJ S&D = 0,71

Angka pada baris dan kolom yang diikuti huruf kecil yang sama tidak berbeda nyata menurut uji BNJ pada taraf 5%.


Berdasarkan data pada tabel 5, memperlihatkan bahwa interaksi perlakuan darah sapi yang difermentasi dan super gib cair memberikan pengaruh terhadap umur berbunga, dimana perlakuan terbaik dihasilkan pada kombinasi darah sapi yang difermentasi 200 ml/l dan pemberian super gib cair 1,0 ml/l dan (D2S2) dengan umur berbunga paling cepat yaitu 33,17 hari hst,  dan tidak berbeda nyata dengan perlakuan (D3S2), (D1S2), (D1S3), (D0S3), (D2S1) dan berbeda nyata dengan kombinasi perlakuan lainya, sedangakan umur berbunga paling lama dihasilkan dari perlakuan (D0S0) yaitu 40,50 hari hst. Lebih cepatnya umur berbunga dengan pemberian darah sapi yang difermentasi disebabkan karena adanya kandungan unsur N, P, K yang dapat menunjang pertumbuhan dengan dikombinasikan super gib cair disebabkan karna adanya kandungan hormon giberelin yang dapat menunjang pembungaan tanaman terung. Dengan adanya kandungan giberelin pada super gib cair maka akan memberikan tambahan zat pengatur tumbuh dalam pertumbuhan tanaman, terutama umur berbunga tanaman.

                Lamanya umur berbunga pada perlakuan tanpa darah sapi yang difermentasi dan super gib cair (D0S0) dikarenakan tidak terpenuhinya unsur hara yang dibutuhkan tanaman untuk proses pembentukan bunga. Sedangkan  pengaruh pemberian darah sapi yang difermentasi 200 ml/ l air dengan dikombinasikan super gib cair 1,0 ml/l air dapat menghasilkan umur berbunga  lebih cepat, hal ini dikarenakan dengan adanya pemberian darah sapi yang difermentasi dan super gib cair dengan yang cukup maka dapat meningkatkan tingkat kesuburan tanah sehingga dapat mempercepat inisiasi pembungaan.

Umur Panen (hari)

Hasil pengamatan terhadap umur panen tanaman terung telunjuk setelah dilakukan analisis ragam memperlihatkan bahwa baik secara interaksi maupun pengaruh utama darah sapi yang difermentasi dan super gib cair dan memberikan pengaruh yang nyata terhadap umur panen tanaman terung telunjuk. Rata-rata umur panen setelah di uji lanjut BNJ pada taraf 5% dapat dilihat dari tabel 6.


Tabel 6. Rata-rata umur panen dengan perlakuan darah sapi yang difermentasi dan super gib cair (hari).

 

Darah Sapi yang difermentasi

(ml/L)

Super Gib Cair

(ml/L)

RERATA

0 (S0)

0,1 (S1)

1,0 (S2)

10 (S3)

0 (D0)

68,00 d

67,17 d

67,33 d

65,42 b-d

66,98 c

100 (D1)

66,08 cd

64,75 b-d

64,33 a-d

63,92 a-d

64,77 b

200 (D2)

65,58 b-d

61,50 a-c

60,00 a

63,67 a-d

62,69 a

300 (D3)

66,50 d

65,50 b-d

61,07 ab

63,50 a-d

64,14 ab

RERATA

66,54 c

64,73 ab

63,18 a

64,13 ab

KK = 2,34 %             BNJ  S & D = 1,68              BNJ SD = 4,60

Angka pada baris dan kolom yang diikuti huruf kecil yang sama tidak berbeda nyata menurut uji BNJ pada taraf 5%.


Berdasarkan  data  pada tabel  6, memperlihatkan bahwa interaksi perlakuan darah sapi yang difermentasi dan pemberian super gib cair memberikan pengaruh terhadap umur panen tanaman, dimana perlakuan terbaik dihasilkan pada kombinasi  darah  sapi yang difermentasi 200 ml/l  dan pemberian  super gib cair 1,0 ml/l  air  dan  (D2S2) dengan  umur  panen  tercepat  yaitu 60,00 hari, dan tidak berbeda nyata dengan perlakuan (D3S2), (D2S1), (D3S3), (D2S3), (D1S2), (D1S3), dan berbeda dengan semua kombinasi perlakuan lainya, umur panen paling lama dihasilkan dari perlakuan (D0S0) yaitu 68,00 hari.

Lebih cepatnya umur panen  pada kombinasi perlakuan D2S2 diduga akibat pengaruh unsur  hara dari  kombinasi  darah sapi yang difermentasi 200 ml/l air dan super gib cair 1,0 ml/l air mampu  memenuhi  kesuburan  tanaman  terung dengan baik sehingga  proses fotosintesis berlangsung lebih baik yang pada akhirnya mampu mempercepat  proses  perkembangan dan  pemasakan buah terung  sehingga cepat  memenuhi kriteria panen. Kecepatan pembungaan juga membantu tanaman terung dalam mempercepat umur panen karena proses pembentukan, pertumbuhan dan pemasakan buah lebih cepat dimulai. Pematangan buah mengacu kepada tahap akhir dari perkembangan buah yang meliputi pembesaran sel, akumulasi  karbohidrat dan penurunan asam-asam amino yang muncul dari efek pemenuhan hara, air dan kecepatan nutrisi bunga pada tanaman tersebut.

                Pada perlakuan lainnya, umur panen belum mampu dipercepat diduga karena pengaruh inisiasi bunga yang belum mampu dipercepat akibat  asupan hara dan perbaikan kondisi tanah belum berlangsung dengan baik karena dosis pemupukan super gib cair dan darah sapi yang belum sesuai. Pertumbuahan dan perkembangan tanaman sangat dipengaruhi oleh tingkat kesuburan tanah semakin tinggi tingkat kesuburan tanah maka, ketersediaan hara yang dibutuhkan tanaman untuk tumbuh dan berkembang akan terpenuhi. Dengan demikian pertumbuhan dan perkembangan tanaman dapat terjadi karena proses metabolism dalam tubuh tanaman menjadi lancar terutama  dalam umur panen. Unsur yang terdapat pada darah sapi setelah difermentasikan analisis P,K dan Mg yang tinggi, dapat mempercepat masa pembungaan, pembuahan dan panen.

Berat Buah Per Tanaman (gram)

Hasil pengamatan terhadap berat buah per tanaman terung telunjuk setelah dilakukan analisis ragam memperlihatkan bahwa baik secara interaksi maupun pengaruh utama  darah sapi yang difermentasi dan super gib cair dan memberikan pengaruh yang nyata terhadap berat buah pertanaman terung telunjuk. Rata-rata berat buah per tanaman setelah di uji lanjut BNJ pada taraf 5% dapat dilihat dari tabel 7.


Tabel 7. Rata-rata berat buah per tanaman dengan perlakuan darah sapi yang difermentasi dan super gib (gram).

 

Darah Sapi yang difermentasi

(ml/L)

Super Gib Cair

(ml/L)

Rata-rata

0 (S0)

0,1 (S1)

1,0 (S2)

10 (S3)

0 (D0)

592,09 k

719,43 i

779,43 h

909,77 e

750,18 d

100 (D1)

669,42 j

728,98 i

794,87 h

940,77 d

783,51 b

200 (D2)

839,42 g

959,49 c

1080,10 a

1020,13 b

974,79 a

300 (D3)

659,43 j

729,97 i

789,43 h

879,43 f

764,57 c

Rata-rata

690,09 d

784,47 c

860,96 b

937,53 a

 

KK= 1,03 %                              BNJ SD = 25,70                     BNJ S&D = 9,36

Angka pada baris dan kolom yang diikuti huruf kecil yang sama tidak berbeda nyata menurut uji BNJ pada taraf 5%.


Berdasarkan  data  pada tabel 7,  memperlihatkan  bahwa  interaksi  perlakuan darah sapi yang difermentasi dan pemberian super gib cair memberikan pengaruh terhadap berat buah per tanaman, dimana perlakuan terbaik dihasilkan pada kombinasi darah sapi yang difermentasi 200 ml/l dan  pemberian super  gib cair 1,0 ml/l (D2S2)  dengan berat buah per tanaman yaitu 1080,10 gram, dan berbeda dengan semua kombinasi  perlakuan  lainya, sedangkan berat  buah  per tanaman  terendah dihasilkan dari perlakuan (D0S0) yaitu 592,09 gram.

Lebih baiknya  kombinasi  perlakuan D2S2 dalam  menghasilkan  berat  buah  per tanaman  hal  ini dikarenakan dengan pemberian darah sapi yang difermentasi 200 ml/l air dapat diserap oleh tanaman dengan optimal. Pemberian darah sapi yang difermentasi 200 ml/ l air kondisi tanah menjadi subur yaitu dengan semakin meningkatnya aktivitas mikroorganisme dalam tanah, dengan terpenuhinya unsur hara bagi tanaman  maka  proses metabolisme  dalam  tubuh tanaman seperti fotosintesis dapat berlangsung dengan baik. Semakin tingginya proses fotosintesis  maka asimilat yang dihasilkan akan  semakin tinggi dan dapat ditranslokasikan  ke organ hasil  yaitu buah. Dengan demikian buah terung yang dihasilkan akan semakin tinggi.

Syarif (2005) mengemukakan bahwa setiap pemberian pupuk organik memiliki respon yang tidak sama, untuk menghasilkan produksi yang optimal harus  melakukan  tindakan  pemupukan  yang  disesuaikan  dengan  kondisi  tanah dan pemilihan  varietas tanaman. setiap varietas  akan  membutuhkan pupuk yang berbeda jumlahnya untuk menunjang pertumbuhan dan menghasilkan produksi yang lebih baik, penggunaan pupuk organik pada prinsipnya meminimalkan penggunaan sarana bahan kimia dan mengoptimalkan  penggunaan  sarana  produksi  organik  yang  terbuat  dari  bahan  atau  limbah  bahan  organik  pertanian  yang  dapat  dimanfaatkan  dalam proses budidaya tanaman.

Pemberian super gib cair memberikan hormon giberelin dengan dosis yang tepat pada tanaman terung telunjuk, sehingga memberikan berat buah terberat dibandingakan dengan kombinasi lainnya. Kombinasi yang tepat dari perlakuan ini memberikan pertumbuhan tanaman yang baik, sehingga akan menghasilkan produksi yang baik pula.

 Sesuai dengan pendapat Annisah (2009) bahwa Super Gib Cair  mengandung  hormon giberelin 40% yang berpengaruh terhadap pembentangan sel-sel,  pembungaan dan pembuahan. Hormon tanaman dapat diartikan secara luas, baik yang buatan maupun  yang  asli  serta yang mendorong ataupun yang menghambat pertumbuhan, Super Gib Cair juga mampu  menginduksi  terjadinya  pembelahan pada sel-sel buah sehingga ukuran buah bertambah dan mempengaruhi berat buah.

Jumlah Buah Per Tanaman (buah)

Hasil pengamatan terhadap jumlah buah per tanaman terung telunjuk setelah dilakukan analisis ragam memperlihatkan bahwa interaksi  darah sapi yang difermentasi dan super gib cair tidak  memberikan  pengaruh  yang nyata. Namun pengaruh utama darah sapi yang difermentasi dan super gib cair memberikan  pengaruh  yang  nyata  terhadap  jumlah  buah  per tanaman  tanaman  terung  telunjuk. Rata-rata  jumlah buah per tanaman setelah di uji lanjut BNJ pada tarap 5% dapat dilihat pada tabel 8.

 

 

 


Tabel 8. Rata-rata jumlah buah per tanaman dengan perlakuan darah sapi yang difermentasi dan super gib cair (buah).

 

Darah Sapi yang difermentasi

(ml/L)

Super Gib Cair

(ml/L)

Rata-rata

0 (S0)

0,1 (S1)

1,0 (S2)

10 (S3)

   0 (D0)

16,42

21,00

24,75

21,08

20,81 c

100 (D1)

20,42

17,25

25,92

22,83

21,60 c

200 (D2)

22,50

23,50

28,92

25,42

25,08 a

300 (D3)

21,00

20,75

28,42

22,50

23,17 b

Rata-rata

20,08 c

20,63 c

27,00 a

22,96 b

 

                       KK= 7,73 %                       BNJ S&D = 1,94

Angka pada baris dan kolom yang diikuti huruf kecil yang sama tidak berbeda nyata menurut uji BNJ pada taraf 5%.


Berdasarkan tabel 8. pengaruh utama darah sapi yang difermentasi memberi pengaruh yang nyata terhadap jumlah buah per tanaman tanaman terung  telunjuk,  dimana  perlakuan  terbaik  terdapat  pada  darah sapi yang difermentasi 200 ml/l (D2) dengan jumlah buah per tanaman 25,08 buah, diikuti oleh  pemberian darah sapi yang difermentasi 300 ml/l (D3) dengan  jumlah  buah per tanaman yaitu  23,17 buah  dan   jumlah   buah  per tanaman  terendah  terdapat  pada kontrol tanpa darah sapi yang difermentasi (D0) yaitu 20,18 buah. Ini diduga ketersedian hara dalam darah sapi yang difermentasi dengan unsur N (25.7 ppm), P (196 ppm), K (608 ppm), Mg (107 ppm) kurang mencukupi hara yang dibutuhkan tanaman. Perlakuan darah sapi yang difermentasi 200 ml/l membantu proses pembentukan buah pada tanaman terung, sehingga menghasilkan buah yang lebih banyak  dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Selain itu dengan pemberian pupuk organik cair darah sapi, akar tanaman dapat menyerap unsur hara yang dibutuhkan tanaman dalam pembentukan buah yaitu unsur Fospor. Jika Fospor tersedia dengan jumlah yang optimal pada proses pembentukan buah maka tanaman akan menghasilkan jumlah produksi yang maksimal.

Tanaman  terung  telunjuk  dengan  tanpa pemberian  perlakuan darah sapi lebih  rendah  dari  perlakuan  pemberian  darah  sapi  yang difermentasi 200 ml/l air, diduga karena pengaruh kurangnya unsur hara yang tersedia tidak mampu memenuhi kebutuhan tanaman terung dan menyebabkan tidak optimalnya pembentukan buah pada tanaman terung telunjuk.

Pemberian pupuk organik cair dapat meningkatkan jumlah daun, jumlah cabang, luas daun, indeks luas daun, panjang akar, volume akar, jumlah buah, dan berat buah per tanaman, dengan adanya pemberian pupuk organik cair darah sapi  dapat meningkatkan kualitas hijauan terutama kandungan protein.

Berdasarkan tabel 8. Menunjukkan  bahwa  pengaruh   utama pemberian super  gib cair  memberi pengaruh yang nyata terhadap jumlah  buah  per tanaman terung telunjuk, dimana perlakuan terbaik terdapat pada pemberian super gib cair 1,0 ml/l (S2) dengan jumlah buah pertanaman 27,00 buah dan jumlah  buah  per tanaman  terendah  terdapat  pada  kontrol  tanpa  pemberian super gib cair (S0) yaitu 20,08 buah.

Jumlah buah  per tanaman  pada  perlakuan S2 (1,0 ml/l ) yaitu 27,00 buah karena  kandungan   ZPT atau  hormon  tumbuhan  yang  terdapat di dalam super gib cair  yaitu hormon  gibberelin  dapat  dimanfaatkan  dengan optimal, dan merupakan konsentrasi yang tepat dalam pemberiannya, karena super gib cair mengandung hormon giberelin, yang merupakan ZPT alami. Jika ZPT diberikan dalam jumlah yang sedikit atau berlebih maka akan memberikan dampak yang sama pada tanaman, yaitu dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan tanaman itu sendiri.

Menurut Yesinta (2010) super Gib Cair mengandung hormon giberelin 40% merupakan hormon yang mempercepat perkecambahan biji, kuncup tunas, pemanjangan batang,pertumbuhan daun, merangsang pembungaan, perkembangan buah, mempengaruhi pertumbuhan dan deferensisi akar. Giberelin bukan hanya memacu perpanjangan batang saja, tapi pertumbuhan seluruh tumbuhan termasuk daun dan akar.

Tanaman  dalam  metabolismenya  ditentukan oleh ketersediaan  unsur  hara pada tanaman terutama unsur N, P, K dalam jumlah yang cukup sehingga mempengaruhi  jumlah  buah  tanaman tersebut. Sedangkan rendahnya jumlah buah pada  perlakuan  S0 (tanpa perlakuan) yaitu  20,08  buah  disebabkan  karena unsur hara yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman kurang  tersedia sehingga  pertumbuhan kurang optimal. Pertumbuhan dan perkembangan tanaman tidak terlepas dari pada fungsi unsur hara itu sendiri semakin tersedia  unsur  hara  yang ada didalam tanah  maka akan dimanfaatkan oleh tanaman dalam pertumbuhan generatif maupun vegetatif. Karena  pada  dasarnya  tanaman  memerlukan  unsur  hara  yang seimbang dengan  pemberian  konsentrasi yang optimal, dimana unsur hara yang optimal dapat memacu pertumbuhan vegetatif dan generatif.

Jumlah Buah Sisa (buah)

Hasil pengamatan  terhadap jumlah buah sisa tanaman terung telunjuk setelah dilakukan analisis ragam memperlihatkan bahwa interaksi darah  sapi yang difermentasi dan super  gib cair tidak  memberikan pengaruh  yang  nyata. Namun  pengaruh utama darah  sapi yang difermentasi dan super  gib cair memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah buah sisa tanaman terung telunjuk. Rata-rata  jumlah buah sisa setelah di uji lanjut BNJ pada tarap 5% dapat dilihat pada tabel 9.


Tabel 9. Rata-rata jumlah buah sisa dengan perlakuan darah sapi yang difermentasi  dan super gib cair (buah).

 

Darah Sapi yang difermentasi

(ml/L)

Super Gib Cair

(ml/L)

Rata-rata

0 (S0)

0,1 (S1)

1,0 (S2)

10 (S3)

   0 (D0)

3,33

3,50

4,42

4,25

3,88 c

100 (D1)

4,08

4,33

6,00

5,75

5,04 b

200 (D2)

4,50

5,25

7,25

6,17

5,79 a

300 (D3)

3,58

4,42

5,67

5,25

4,73 b

Rata-rata

3,88 c

4,38 b

5,83 a

5,35 a

 

                     KK= 11,26 %                       BNJ S&D = 0,61

Angka pada baris dan kolom yang diikuti huruf kecil yang sama tidak berbeda nyata menurut uji BNJ pada taraf 5%.


Berdasarkan tabel 9. Pengaruh utama darah sapi yang difermentasi memberi pengaruh yang nyata terhadap jumlah buah sisa tanaman terung telunjuk, dimana  perlakuan  terbaik  terdapat  pada darah  sapi yang difermentasi 200 ml/l (D2) dengan jumlah buah sisa yaitu 5,79 buah, dan jumlah  buah  sisa terendah terdapat pada kontrol tanpa darah sapi yang difermentasi yaitu 3,88 buah.

Berdasarkan tabel 9. Pengaruh utama pemberian super gib cair memberi  pengaruh yang  nyata terhadap jumlah buah sisa tanaman  terung  telunjuk, dimana perlakuan  terbaik terdapat pada pemberian super gib cair 1,0 ml/l (S2) dengan jumlah  buah  sisa yaitu 5,83 buah dan diikuti oleh  pemberian super gib cair 10 ml/l dengan jumlah buah sisa 5,35 buah sedangkan  jumlah buah sisa  terendah  terdapat  pada tanpa pemberian super gib cair (S0) yaitu 3,88 buah.

Lebih banyaknya  jumlah  buah  sisa  tanaman  terung  yang dihasikan melalui pemberian super gib cair dengan konsentrasi 1,0 ml/l air, hal ini dikarenakan  pada konsentrasi tersebut merupakan konsentrasi yang  tepat sehingga dapat memenuhi  asupan nutrisi yang diserap oleh tanaman. Sebagaimana menurut  Hidayati ( 2015) cara aplikasi Super Gib Cair yang baik adalah  dengan  mencampurkan  dan melarutkan dalam air kemudian disemprotkan  ke daun tanaman, untuk pemakaian ke tanaman setiap 1 ml Super Gib dilarutkan dengan 1 liter air. Disemprotkan  ke  permukaan  daun. Penyemprotan  dilakukan  pagi  hari atau sore hari.

Pemberian zat pengatur tumbuh pada jumlah yang optimum akan merangsang aktivitas giberelin, perpanjangan dan pembelahan sel pada jaringan meristematik sehingga berpengaruh terhadap pertumbuhan. Proses pertama yang dirangsang giberelin terhadap pertumbuhan vegetatif adalah perpanjangan sel, perbesaran sel, pembelahan sel, deferensiasi sel yang meliputi pembentukan akar (Hardjowigeno, 2003).

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

                Dari hasil penelitian yang telah dilaksanakan dapat diambil kesimpulan bahwa:

1.       Interaksi darah sapi yang difermentasi dan super gib cair berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, laju  pertumbuahan relatif (LPR), laju asimilasi bersih (LAB), umur berbunga, umur panen, berat buah per tanaman. perlakuan terbaik adalah darah sapi yang difermentasi 200 ml/l air dan  super gib cair 1,0 ml/ l air  dan  (D2S2).

2.       Pengaruh utama darah sapi yang difermentasi berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, laju pertumbuahan relatif (LPR), laju asimilasi bersih (LAB), umur berbunga, umur panen, berat buah per tanaman, jumlah buah per tanaman, jumlah buah sisa. Perlakuan terbaik adalah darah sapi yang difermentasi  200  ml/ l air (D2).

3.       Pengaruh utama super gib cair berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, laju pertumbuahan relatif (LPR), laju asimilasi bersih (LAB), umur berbunga, umur panen, berat buah per tanaman, jumlah buah per tanaman, jumlah buah sisa. Perlakuan terbaik adalah super gib cair 1,0 ml/ l air (S2).

Saran

                Berdasarkan dari hasil penelitian pemberian fermentasi darah sapi dan super gib cair terhadap tanaman terung disarankan penelitian lanjutan dengan perlakuan fermentasi darah sapi 200 ml/l air, dan ZPT Super Gib cair harus  diperhatikan kembali berapa kali pemberian harus dilakukan dan diberikan sesuai dosis yang dianjurkan.

DAFTAR PUSTAKA

Abrianto, W. 2011. Mari Mengolah Limbah Darah sapi limbah RPH Untuk PakanIkan Dan Pupuk Tanaman. www. Dunia sapi. Com. Diakses tanggal 12 Juli 2016.

 

Annisah, 2009. Pengaruh Induksi Hormon Giberelin terhadap Pembentukan Buah Partenokarpi pada Beberapa Varietas Tanaman Semangka. Skripsi. Tidak dipublikasikan. Medan: Universitas Sumatera Utara.

 

Anonimus..2015. Tanaman Terung. Badan Pusat Statistik Provinsi Riau

 

Arinong, R dan C.D, Lasiwa. 2011. Aplikasi Pupuk Organik Cair Terhadap Pertumbuhan Dan Produksi Tanaman Sawi. Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian Gowa. Jurnal Agrisistem, juni 2011, Vol.(7) No. 1.

 

Firmanto, B. 2011.Sukses bertanaman terung. Angkasa, Bandung.

 

Hidayati,N.2015.SuperGibZptAndalanPetani.http://www.lmgaagro.web.id/2015/07/super-gib-zpt-andalan-petani.html. Diakses pada 30 Januari 2017.

Iskandar, D. 2003. Pengaruh Dosis Pupuk N, P, K Terhadap Pertumbuhan dan Produksi  Jagung  Manis di Lahan Kering. Prosiding Seminar Teknologi untuk Negeri 2003, Vol. II, hal. 1-5 /HUMAS-BPPT/ANY.

Putriyani, A. 2016. Pengaruh Limbah Cair Darah Sapi dan Pupuk Urea Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Seledri (Apium graveolens L). Skripsi Fakultas Pertanian. Universitas Islam Riau.

 

Salisburry, F.B dan C.W.Ross. 1996. Fisiologi Tumbuhan. Institut Teknologi Bandung. Bandung. http://jurnal-agriba.info/wp-content/uploads/2015/08/2-Noviriani.pdf di akses 25 juli 2017