JURNAL AGROTEKNOLOGI UIR "PENGARUH DARAH SAPI YANG DIFERMENTASI DAN SUPER GIB CAIR TERHADAP PERTUMBUHAN SERTA PRODUKSI TERUNG TELUNJUK (Solanum melongena .L)
PENGARUH DARAH SAPI YANG DIFERMENTASI DAN SUPER GIB CAIR TERHADAP PERTUMBUHAN SERTA
PRODUKSI
TERUNG TELUNJUK (Solanum melongena .L)
Adriana
Zetania, Hasan Basri Jumin, Zulkifli
Program Studi Agroteknologi, Fakultas
Pertanian Universitas Islam Riau
Jl. Khaharuddin Nasution No.113
Pekanbaru. 28284
Telp: 0761-674681; Fax: 0761-674681
ABSTRAK
Adriana Zetania (134110102), penelitian
dengan judul Pengaruh Darah Sapi Yang Difermentasi Dan Super Gib Cair Terhadap
Pertumbuhan Serta Produksi Terung Telunjuk (Solanum
melongena. L). Dibawah bimbingan Prof. Dr. Ir. Hasan Basri Jumin, M.Sc
sebagai pembimbing I dan Ir. Zulkifli, MS sebagai pembimbing II. Tujuan
penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh darah sapi yang difermentasi dan
super gib cair terhadap pertumbuhan serta produksi terung telunjuk (Solanum melongena. L), baik secara
interaksi maupun pengaruh utama.
Penelitian ini telah
dilaksanakan di Kebun Percobaan
Fakultas Pertanian, Universitas
Islam Riau, Jalan
Kaharuddin Nasution, Km 11 N0.
113, Kelurahan Air Dingin , Kecamatan Bukit Raya, Kota Pekanbaru. Waktu
penelitian telah dilaksanakan selama 4
bulan, dimulai dari bulan April 2017 –
Juli 2017. Penelitian ini menggunakan
Rancangan Acak Lengkap
(RAL) faktorial yang terdiri dari dua faktor, faktor pertama yaitu Darah sapi yang difermentasi (D) terdiri dari 4 taraf yaitu 0, 100,
200, 300 ml/l air. dan faktor kedua yaitu Super Gib cair (S) yang terdiri dari 4 taraf yaitu 0, 0,1, 1,0, 10 ml/l air Parameter
yang diamati adalah tinggi tanaman, laju pertumbuhan relatif (LPR), laju
asimilasi bersih (LAB), umur berbunga, umur panen, berat buah per tanaman,
jumlah buah per tanaman, jumlah buah sisa.
Hasil penelitian menunjukkan
bahwa secara interaksi pengaruh darah sapi yang difermentasi dan super gib cair
berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, laju
pertumbuahan relatif (LPR), laju asimilasi bersih (LAB), umur berbunga,
umur panen, berat buah per tanaman. Perlakuan terbaik adalah darah sapi yang
difermentasi dengan konsentrasi 200 ml/l air dan super gib cair dengan
konsentrasi 1,0 ml/ l air dan (D2S2)). Pengaruh utama darah sapi yang
difermentasi berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, laju pertumbuahan
relatif (LPR), laju asimilasi bersih (LAB), umur berbunga, umur panen, berat
buah per tanaman, jumlah buah per tanaman, jumlah buah sisa. Perlakuan terbaik adalah darah sapi yang
difermentasi dengan konsentrasi 200 ml/ l air (D2). Pengaruh utama super gib
cair berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, laju pertumbuahan relatif
(LPR), laju asimilasi bersih (LAB), umur berbunga, umur panen, berat buah per
tanaman, jumlah buah per tanaman, jumlah buah sisa perlakuan terbaik adalah
super gib cair dengan konsentrasi 1,0 ml/ l air (S2).
PENDAHULUAN
Terung (Solanum
melongena L.) merupakan tanaman asli
daerah tropis. Tanaman ini berasal dari Asia Tenggara terutama Negara India dan
Birma. Dikawasan ini terdapat aneka
jenis terung, baik yang dibudidayakan maupun yang tumbuh secara
liar. Kandungan khasiat terung agak sederhana. Dalam tiap 100 gram (g)
bagian yang boleh dimakan mengandung :
air 91.2 g, protein 1.7 g, lemak 0.1 g, karbohidrat 5.6 g, serat 1.0 g, kalsium
25 miligam (mg), fosforus 20 mg, ferum
0.6 mg, karotena 90 ug, vitamin A 15 ug,
vitamin B1 0.07 mg, vitamin B2 0.05 mg, niasin 0.7 mg dan vitamin C 18.4 mg. Terung
mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi dan telah mampu menerobos pasaran
ekspor. Terung sangat potensial untuk dikembangkan dengan meningkatkan
produktifitasnya.
Data Badan Pusat Statistik Provinsi Riau menunjukkan produksi tanaman
terung pada tahun 2014
mencapai 14.885 ton, sedangkan pada tahun 2015 produksi tanaman terung mengalami peningkatan 120.997 ton (Anonimus,
2015). Rendahnya produksi
tanaman terung di Riau antara
lain disebabkan oleh sistem
budidayanya masih belum dikembangkan secara
intensif, serta belum menggunakan teknologi yang tepat.
Perkembangan
budidaya tanaman terung di daerah Riau masih belum
begitu luas karena tanaman terung umumnya hanya diusahakan sebagai
tanaman sampingan bukan sebagai tanaman utama
dengan cara bercocok tanam yang belum
intensif, sehingga produksi tanaman terung masih tergolong rendah. Di samping itu juga disebabkan oleh tingkat kesuburan tanah di daerah
Riau yang umumnya tergolong rendah.
Salah satu usaha untuk mengatasi permasalahan di Riau terkait dengan tanah yaitu
dengan penggunaan pupuk organik dan zat pengatur tumbuh.
Teknik budidaya yang baik,
yaitu dengan pemupukan, pupuk yang
tepat dan teratur dapat diberikan melalui tanah dan
dapat juga diberikan melalui bagian dari tanaman itu sendiri seperti melalui daun tanaman. Pemberian pupuk melalui
tanah dapat menggunakan pupuk organik. Selain juga memberikan keuntungan dalam
penghematan tenaga kerja, biaya dan dapat memberikan beberapa jenis unsur salama satu kali pemupukan yaitu unsur
nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K). Nitrogen dalam tumbuhan merupakan unsur yang sangat penting untuk pembentukan protein daun dan senyawa lainnya. Di
samping itu juga berperan dalam perkembangan vegetatif tanaman
terutama pada waktu muda.
Salah satu sumber
daya lokal adalah limbah darah sapi dari rumah potong hewan sapi. Dirumah
potong hewan ini darah sapi hasil pemotongan hewan langsung dibuang tanpa diolah terlebih dahulu
sehingga berpotensi menjadi limbah yang
dapat mengganggu lingkungan. Padahal jika diolah dengan baik, darah sapi
memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi, antara lain menjadi tepung darah
untuk suplai pakan ternak ikan dan udang ataupun pupuk tanaman.
Persentase darah
didalam tubuh hewan sapi adalah sekitar 3,5-7% dari total berat tubuhnya. Komponen unsur-unsur kimia yang
terkandung dalam darah sapi antara kandungan nitrogen 12,18%, fospor 5,28%, kalium 0,15% dan karbon-organik 19,01% (Abrianto, 2011). Namun untuk
menjadikan darah sapi sebagai pupuk organik dalam bentuk cair dapat
dilakukan fermentasi terlebih dahulu, dengan berkembangnya teknologi untuk
mempercepat proses fermentasi bahan
organik dengan menggunakan Effective Microorganism (EM-4) yang dikenal dengan nama produk bokashi. Bokashi merupakan hasil
fermentasi bahan organik dengan EM-4 yang dapat digunakan sebagai pupuk organik
untuk meningkatkan kesuburan tanah dan
meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman (Safei, 2014). Komponen unsur-unsur kimia yang terkandung dalam darah sapi yang sudah difermentasikan
meggunakan bahan organik (EM4) antara kandungan N (25.7 ppm), P (196 ppm), K
(608 ppm), Mg (107 ppm) (Putriyani, 2016).
Hasil penelitian
Arinong dan lesiwua (2011) limbah darah sapi berpengaruh bagi pertumbuhan,
tinggi tanaman, pertambahan
jumlah daun dan produksi tanaman
sawi. Perlakuan terbaik
adalah dengan menggunakan 75 ml pupuk
organik cair darah sapi yang dicampurkan dengan 1 liter
air. Begitu juga pada penelitian Ani
Putri Yani (2016) Pupuk organik darah sapi cair memberikan pertumbuhan yang lebih baik dan
berpengaruh nyata terhadap semua
parameter pengamatan pada tanaman seledri dengan dosis terbaik 100 ml/liter
air.
Untuk mendukung
pertumbuhan terung agar dapat tumbuh dan berkembang dengan baik maka perlu adanya
penambahan zat pengatur tumbuh dengan cara pemberian hormon tanaman seperti
Super Gib Cair. Hormon tanaman adalah senyawa-senyawa organik tanaman yang
dalam konsentrasi yang rendah
mempengaruhi proses-proses fisiologis.
Super Gib Cair merupakan hormon pertumbuhan
yang pada tanaman mempunyai beberapa pengaruh pertumbuhan, antara lain
Pertumbuhan dan perkembangan, pemanjangan batang, terlibat dalam pembungaan dan
terlibat pada proses, perkecambahan biji, salah
satu efek yang paling nyata dari Super Gib adalah memodifikasi
pertumbuhan tanaman, meningkatkan proses fotosintesis dan
lain-lain (Hidayati, 2015).
Dengan menggunakan
darah sapi yang difermentasi untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil
produksi tanaman terung telunjuk akan dapat ditekan
atau pun bisa lebih maksimal apabila dikombinasikan dengan zat pengatur tumbuh
Super Gib Cair. Dari uraian tersebut
penulis telah melakukan penelitian dengan judul : “Pengaruh Darah Sapi yang Difermentasi dan Super Gib Cair Terhadap
Pertumbuhan Serta Produksi Terung Telunjuk (Solanum
melongena L.)”.
METODE
PENELITIAN
Penelitian ini telah dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian, Universitas Islam Riau, Jalan Kaharuddin Nasution, Km 11 N0. 113, Kelurahan Air Dingin,
Kecamatan Bukit Raya, Kota Pekanbaru. Waktu penelitian telah dilaksanakan selama 4 bulan, dimulai dari
bulan April 2017 – Juli 2017.
Bahan-bahan yang
digunakan dalam penelitian ini adalah benih terung telunjuk varietas SM 152
(lampiran 3), darah sapi yang difermentasi (lampiran 4), Super Gib Cair 20 SL,
NPK mutiara, Decis, furadan 3G, Dithane M-45, Regent,Microorganisme-4
(EM4), gula merah, polybag, papan nama penelitian, paku, tali plastik. Sedangkan
alat-alat yang digunakan adalah cangkul, parang, sabit, garu, meteran,
handsprayer, gembor, jeregen, ember, timbangan analitik, martil, gergaji,
kamera, alat-alat tulis dan lain-lain.
Penelitian ini menggunakan
Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial yang terdiri dari dua
faktor,
faktor pertama yaitu Darah sapi yang
difermentasi (D) yang terdiri
dari 4 taraf dan faktor kedua yaitu Super Gib Cair (S) terdiri
dari 4 taraf, sehingga didapat 16 kombinasi perlakuan. Setiap kombinasi perlakuan diulang 3
kali, sehingga diperoleh 48 satuan percobaan. Setiap satuan percobaan terdiri
dari 8 tanaman dan 6 tanaman sebagai sampel, sehingga total keseluruhan tanaman
berjumlah 384 tanaman. Data hasil pengamatan terakhir dari masing-masing
perlakuan dianalisis secara statistik, apabila F hitung lebih besar dari F
tabel maka dilanjutkan dengan uji lanjut BNJ (Beda Nyata Jujur) pada taraf 5%.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Tinggi Tanaman (cm)
Hasil pengamatan terhadap tinggi tanaman terung telunjuk setelah dilakukan analisis ragam memperlihatkan bahwa baik secara interaksi maupun
pengaruh utama darah sapi yang
difermentasi dan
super gib cair memberikan
pengaruh
nyata. Rata-rata tinggi tanaman setelah di uji lanjut BNJ pada
taraf 5% dapat dilihat dari tabel 2.
Tabel 2. Rata-rata tinggi tanaman dengan perlakuan darah
sapi
yang difermentasi dan super gib cair (cm).
|
Darah Sapi yang difermentasi (ml/L) |
Super Gib Cair (ml/L) |
RERATA |
|||
|
0 (S0) |
0,1 (S1) |
1,0 (S2) |
10 (S3) |
||
|
0 (D0) |
58,35 d |
61,67 cd |
61,98 cd |
63,95 a-c |
61,49 c |
|
100 (D1) |
61,83 cd |
62,37 cd |
64,66 a-c |
63,75 a-c |
63,15 ab |
|
200 (D2) |
62,56 b-d |
62,99 bc |
68,12 a |
64,07 a-c |
64,43 a |
|
300 (D3) |
62,63 b-d |
62,98 bc |
66,83 ab |
62,23 cd |
63,67 ab |
|
RERATA |
61,34 c |
62,50 bc |
65,40 a |
63,50 b |
|
|
KK = 2,28 % BNJ S & D = 1,60 BNJ SD = 4, 38 |
|||||
Angka pada baris
dan kolom yang diikuti huruf kecil yang sama tidak berbeda nyata menurut uji
BNJ pada taraf 5%.
Berdasarkan data pada tabel 2, memperlihatkan bahwa
interaksi perlakuan darah sapi yang
difermentasi dan pemberian super gib cair memberikan pengaruh nyata terhadap
tinggi tanaman, dimana dihasilkan pada kombinasi pemberian darah sapi yang difermentasi dengan konsentrasi 200 ml/l dan pemberian super gib cair
dengan konsentrasi 1,0 ml/l tertinggi
yaitu 68,12 cm, tidak berbeda nyata dengan perlakuan (D3S2), (D1S2), (D0S3), (D1S3), (D2S3) dan berbeda nyata dengan semua
kombinasi perlakuan lainya, tinggi tanaman terendah dihasilkan pada tanpa perlakuan yaitu 58,35 cm.
Dihasilkan
tinggi tanaman tertinggi pada perlakuan D2S2, hal ini dikarenakan ada unsur
yang terkandung pada darah sapi yang difermentasi dan ditambah lagi yang
terdapat pada super gib cair, lebih mampu memberikan sumber unsur hara yang ada
untuk pertumbuhan tinggi tanaman terung telunjuk hingga diperoleh tinggi
tanaman yang maksimal. Pupuk baku darah sapi berperan dalam memperbaiki sifat fisik, kimia, biologi tanah.
Terjadinya penambahan tinggi tanaman dari suatu tanaman disebabkan karena berlangsungnya
peristiwa pembelahan dan pemanjangan sel yang dipacu oleh pemberian hara.
Akibatnya aktivitas metabolisme dalam jaringan tanaman menghasilkan bahan
organik yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan tinggi tanaman. Iskandar (2003)
menyatakan tanaman akan tumbuh dengan baik apabila unsur hara tersedia cukup
bagi tanaman. pemberian nutrisi merupakan salah satu
cara untuk memenuhi kebutuhan hara, tujuan ini baru akan tercapai bila memperhatikan
konsentrasi dalam pemberian nutrisi dan unsur hara yang dikandung.
Super gib cair
mengandung hormon giberelin sebagaimana diketahui hormon giberelin berfungsi
sebagai pengatur pembesaran sel dan memacu pemanjangan sel di daerah meristem
sehingga pertumbuhan tinggi tanaman dapat optimal. Pemberian zat pengatur
tumbuh bertujuan untuk mempercepat proses pertumbuhan fisiologis pada tanaman
yang memungkinkan tersedianya bahan pembentuk organ vegetatif, sehingga dapat
meningkatkan zat hara yang tersedia bagi tanaman.
Laju Pertumbuhan Relatif (gram/hari)
Hasil pengamatan terhadap
laju pertumbuhan relatif tanaman terung telunjuk pada umur 14-21, 21-28, 28-35 HST setelah dilakukan analisis ragam
memperlihatkan bahwa baik secara
interaksi maupun pengaruh utama Darah
Sapi
yang difermentasi dan Super Gib cair
memberikan pengaruh yang nyata terhadap laju pertumbuhan relatif tanaman terung telunjuk. Rata-rata laju pertumbuhan relatif setelah di uji lanjut BNJ pada taraf 5% dapat dilihat dari tabel 3 .
Tabel 3. Rata-rata Laju pertumbuhan Relatif dengan perlakuan darah sapi
yang difermentasi dan super gib
cair (gram/hari).
|
HST |
Darah Sapi yang difermentasi (ml/L) |
Super Gib Cair (ml/L) |
Rata-rata |
|||
|
0 (S0) |
0,1 (S1) |
1,0 (S2) |
10 (S3) |
|||
|
14 - 21 |
0 (D0) |
0,181 e |
0,194 de |
0,285 a-c |
0,250 cd |
0,227 c |
|
100 (D1) |
0,202 de |
0,251 cd |
0,320 ab |
0,288 a-c |
0,265 b |
|
|
200 (D2) |
0,271 bc |
0,320 ab |
0,343 a |
0,329 ab |
0,316 a |
|
|
300 (D3) |
0,286 a-c |
0,309 a-c |
0,320 ab |
0,313 a-c |
0,307 a |
|
|
Rata-rata |
0,235 c |
0,269 b |
0,317 a |
0,295 a |
|
|
|
KK = 7,48 % BNJ S & D = 0,02311 BNJ SD = 0,06344 |
||||||
|
21-28 |
Darah Sapi yang difermentasi (ml/L) |
Super Gib Cair (ml/L) |
Rata-rata |
|||
|
0 (S0) |
0,1 (S1) |
1,0 (S2) |
10 (S3) |
|||
|
0 (D0) |
0,086 g |
0,093 fg |
0,100 e-g |
0,103 e-g |
0,096 d |
|
|
100 (D1) |
0,095 fg |
0,109 d-f |
0,107 ef |
0,104 e-g |
0,104 c |
|
|
200 (D2) |
0,107 e-g |
0,129 b-d |
0,157 a |
0,130 bc |
0,131 a |
|
|
300 (D3) |
0,106 e-g |
0,111 c-f |
0,137 ab |
0,120 b-e |
0,118 b |
|
|
Rata-rata |
0,099 c |
0,111 b |
0,125 a |
0,114 b |
|
|
|
KK = 6,12 % BNJ S & D = 0,00761 BNJ SD = 0,02090 |
||||||
|
28-35 |
Darah Sapi yang difermentasi (ml/L) |
Super Gib Cair (ml/L) |
Rata-rata |
|||
|
0 (S0) |
0,1 (S1) |
1,0 (S2) |
10 (S3) |
|||
|
0 (D0) |
0,145 h |
0,155 h |
0,160 gh |
0,170 f-h |
0,158 d |
|
|
100 (D1) |
0,169 f-h |
0,168 gh |
0,225 a-d |
0,179 e-h |
0,185 c |
|
|
200 (D2) |
0,216 a-e |
0,230 a-c |
0,257 a |
0,243 a-c |
0,236 a |
|
|
300 (D3) |
0,185 d-h |
0,201 c-g |
0,251 ab |
0,212 b-f |
0,212 b |
|
|
RERATA |
0,179 c |
0,189 bc |
0,223 a |
0,201 b |
|
|
|
KK = 7,13 % BNJ S & D = 0,01565 BNJ SD = 0,043 |
||||||
Angka pada baris
dan kolom yang diikuti huruf kecil yang sama tidak berbeda nyata menurut uji
BNJ pada taraf 5%.
Berdasarkan data
pada tabel 3, memperlihatkan bahwa interaksi perlakuan darah
sapi
yang difermentasi dan pemberian super gib cair memberikan pengaruh terhadap laju pertumbuhan
relatif 14-21 HST, dimana perlakuan terbaik
dihasilkan
pada kombinasi darah
sapi yang
difermentasi 200 ml/l dan pemberian super gib cair 1,0 ml/l (D2S2) dengan
laju pertumbuhan relatif terbaik yaitu 0,343 gram/hari,
tidak berbeda nyata dengan perlakuan (D2S3), (D2S1), (D3S2),
(D1S2), (D3S3), (D3S1), (D3S0), (D1S3), (D0S2) dan
berbeda nyata dengan
semua kombinasi perlakuan
lainya, sedangakan laju pertumbuhan relatif paling rendah dihasilkan dari perlakuan D0S0 yaitu 0,181 gram/hari.
Sedangkan laju pertumbuhan relatif 21-28 hst memperlihatkan bahwa interaksi
perlakuan darah sapi yang difermentasi dan
pemberian
super gib cair
memberikan pengaruh yang nyata, dimana perlakuan terbaik dihasilkan pada kombinasi darah sapi yang
difermentasi 200 ml/l dan pemberian super gib cair 1,0 ml/l (D2S2) dengan laju pertumbuhan
relatif terbaik yaitu 0,157 gram/hari, dan tidak berbeda
nyata dengan perlakuan (D3S2) yaitu 0,137. Berbeda
nyata dengan semua kombinasi
perlakuan lainnya,
sedangkan laju pertumbuhan relatif paling rendah dihasilkan dari perlakuan (D0S0) yaitu 0,086 gram/hari.
Laju
pertumbuhan relatif 28-35 HST memperlihatkan bahwa interaksi perlakuan darah sapi yang
difermentasi dan pemberian super gib cair memberikan pengaruh yang
nyata, dimana perlakuan terbaik dihasilkan pada kombinasi darah sapi yang
difermentasi 200 ml/l dan pemberian super gib cair 1,0 ml/l (D2S2) dengan laju pertumbuhan relatif terbaik yaitu 0,257 gram/hari, dan tidak berbeda nyata dengan perlakuan (D3S2),
(D2S3), (D2S1), (D2S0), (D1S2) dan berbeda
nyata dengan semua kombinasi perlakuan lainya, sedangkan laju
pertumbuhan relatif paling rendah dihasilkan dari perlakuan D0S0 yaitu 0,145 gram/hari.
Nilai laju pertumbuhan relatif pada umur tanaman 14-21
dan 28-35 HST nilai yang dihasilkan
pada perlakuan pemberian darah sapi yang difermentasi dan
super gib cair telah mampu meningkatkan aktivitas
mikroorganisme yang dapat juga meningkatkan proses dekomposisi
dan mineralisasi yang menyebabkan ketersediaan
unsur hara didalam tanah. Dijelaskan oleh Salisburry dan Ross (1996),
pertumbuhan suatu tanaman akan optimal
apabila unsur yang dibutuhkan tersedia dalam jumlah dan bentuk yang sesuai
dengan kebutuhan tanaman.
Penurunan laju
pertumbuhan relatif pada umur 21-28 HST dan 28-35 HST dipengaruhi beberapa faktor
yaitu fotosintesis, struktur kanopi dan lingkungan, dimana faktor lingkungan
lebih erat hubungannya dengan nutrisi yang diserap maupun distribusi nutrisi ke
bagian organ tanaman dan struktur kanopi berhubungan dengan fotosintesis,
dimana fotosintesis menghasilkan metabolit primer yang dipakai untuk metabolisme
tanaman sehingga terjadi pertumbuhan dan perkembangan. Di samping itu,
metabolit primer digunakan untuk menyusun metabolit sekunder yang mendukung
pada proses adaptasi dan proteksi tanaman.
Pada saat LPR
14-21 HST (13-20 mei 2017) suhu udara, intensitas cahaya dan kelembaban udara yang
relatif stabil, dan pada saat 14-21 HST curah hujan juga cukup rendah.
Sedangkan pada saat 21-28 HST dan 28-35 HST (20 Mei- 03 juni 2017) suhu udara
tinggi, intensitas cahaya dan curah hujan yang relatif tidak stabil. Dimana hal
ini sesuai dengan pendapat Firmanto (2011),bahwa tanaman terung bisa tumbuh
pada musim kering (kemarau) dan rata-rata curah hujannya rendah, bila suhu
udara tinggi akan mempengaruhi pertumbuhan, pembungaan dan pembuahan terung
akan terganggu yakni bunga dan buah akan berguguran.
Terjadinya
penurunan pada 21-28 HST dan 28-35 HST ini juga terkait pada serangan hama ulat
grayak yang mampu merusak daun dan dapat mengurangi bobot kering dan luas daun tanaman.
Fotosintesis akan meningkatkan berat kering tanaman karena pengambilan C02, sedangkan
proses katabolisme respirasi menyebabkan pengeluaran O2 dan mengurangi berat
kering tanaman , 90% bahan kering tanaman adalah hasil fotosintesis.
Faktor akumulasi
pada tanaman juga menjadi akibat turunnya laju pertumbuhan relatif pada umur
21-28 hst, yang diduga akibat pemberian super gib cair yang diberikan dengan
selang waktu yang cukup dekat jarak pemberiannya yaitu 7 hari dan dilakukan
sebanyak 6 kali, ini menyebabkan tanaman mengalami akumulasi atau penyusutan
laju pertumbuhan tanaman, dan setelah beberapa minggu setelah itu tanaman mulai
beradaptasi kembali setelah pemberian perlakuan super gib cair dan pertumbuhan
menjadi meningkat kembali. Nutrisi yang diberikan juga tidak mencukupi
kebutuhan tanaman.
Untuk lebih jelasnya laju pertumbuhan relatif
pada tanaman terung telunjuk pada masing-masing hari dengan perlakuan Darah
Sapi yang difermentasi dan Super Gib cair dapat dilihat pada gambar 1a.
Laju pertumbuhan relatif (gram/hari)
Gambar 1a.
Grafik laju pertumbuhan relatif (gram/hari) tanaman terung telunjuk dengan
perlakuan Darah Sapi yang
difermentasi dan Super
Gib cair.
Laju Asimilasi Bersih (gram/cm²/hari)
Hasil pengamatan
terhadap laju asimilasi bersih tanaman terung telunjuk pada
umur 14-21, 21-28, 28-35 HST setelah dilakukan analisis ragam memperlihatkan bahwa baik secara interaksi maupun pengaruh utama darah sapi yang
difermentasi dan super gib cair memberikan pengaruh yang nyata terhadap laju
asimilasi bersih tanaman terung telunjuk. Rata-rata laju asimilasi bersih setelah di uji lanjut BNJ
pada taraf 5% dapat dilihat dari tabel 4.
Tabel 4. Rata-rata laju
asimilasi bersih dengan perlakuan darah sapi yang
difermentasi dan super gib cair (gram/cm2/hari).
|
HST |
Darah Sapi yang difermentasi (ml/L) |
Super Gib Cair (ml/L) |
Rata-rata |
|||
|
0 (S0) |
0,1 (S1) |
1,0 (S2) |
10 (S3) |
|||
|
14 - 21 |
0 (D0) |
0,008 f |
0,009 ef |
0,017 b-d |
0,016 cd |
0,013 c |
|
100 (D1) |
0,009 ef |
0,013 de |
0,018 a-c |
0,018 a-c |
0,015 b |
|
|
200 (D2) |
0,012 ef |
0,016 cd |
0,022 a |
0,021 ab |
0,018 a |
|
|
300 (D3) |
0,013 de |
0,019 a-c |
0,019 a-c |
0,018 a-c |
0,017 a |
|
|
Rata-rata |
0,010 d |
0,014 c |
0,019 a |
0,018 b |
|
|
|
KK= 8,22% BNJ SD = 0,00389
BNJ S&D = 0,00142 |
||||||
|
21-28 |
Darah Sapi yang difermentasi (ml/L) |
Super Gib Cair (ml/L) |
Rata-rata |
|||
|
0 (S0) |
0,1 (S1) |
1,0 (S2) |
10 (S3) |
|||
|
0 (D0) |
0,005 d |
0,009 a-c |
0,008 b-d |
0,009 a-c |
0,008 b |
|
|
100 (D1) |
0,007 cd |
0,009 a-c |
0,008 b-d |
0,009 a-c |
0,008 b |
|
|
200 (D2) |
0,010 a-c |
0,008 b-d |
0,012 a |
0,011 ab |
0,010 a |
|
|
300 (D3) |
0,008 b-d |
0,010 a-c |
0,010 a-c |
0,010 a-c |
0,010 a |
|
|
Rata-rata |
0,007 b |
0,009 a |
0,010 a |
0,010 a |
|
|
|
KK= 11,63% BNJ SD = 0,00318 BNJ
S&D = 0,00116 |
||||||
|
28-35 |
Darah Sapi yang difermentasi (ml/L) |
Super Gib Cair (ml/L) |
Rata-rata |
|||
|
0 (S0) |
0,1 (S1) |
1,0 (S2) |
10 (S3) |
|||
|
0 (D0) |
0,023 f |
0,024 ef |
0,029 b-f |
0,032 a-c |
0,027 a |
|
|
100 (D1) |
0,025 d-f |
0,026 c-f |
0,030 b-e |
0,032 a-c |
0,028 a |
|
|
200 (D2) |
0,024 ef |
0,029 b-f |
0,037 a |
0,030 b-e |
0,030 a |
|
|
300 (D3) |
0,026 c-f |
0,031 a-d |
0,035 ab |
0,026 c-f |
0,029 a |
|
|
Rata-rata |
0,024 c |
0,027 b |
0,033 a |
0,030 a |
|
|
|
KK= 6,87% BNJ SD = 0,00599 BNJ
S&D = 0,00218 |
||||||
Angka pada baris
dan kolom yang diikuti huruf kecil yang sama tidak berbeda nyata menurut uji
BNJ pada taraf 5%.
Berdasarkan
data pada tabel 4, memperlihatkan bahwa interaksi perlakuan darah
sapi
yang difermentasi dan super gib cair memberikan pengaruh terhadap
laju asimilasi bersih 14-21 hst, dimana
perlakuan terbaik
dihasilkan pada kombinasi pemberian darah sapi yang
difermentasi 200 ml/l dan pemberian super gib cair 1,0 ml/l (D2S2) dengan
laju asimilasi bersih terbaik yaitu
0,022 gram/cm2/hari, dan tidak berbeda nyata dengan perlakuan (D2S3),
(D3S1), (D3S2), (D3S3), (D1S2), (D1S3) dan berbeda dengan semua kombinasi perlakuan lainya,
sedangakan laju asimilasi bersih paling rendah dihasilkan dari perlakuan (D0S0) yaitu 0,008 gram/cm2/hari.
Sedangkan
laju asimilasi bersih 21-28 hst memperlihatkan bahwa interaksi perlakuan darah sapi yang
difermentasi dan super gib cair memberikan pengaruh yang nyata, dimana perlakuan terbaik
dihasilkan pada kombinasi
darah sapi yang
difermentasi 200 ml/l dan pemberian super gib cair 1,0 ml/l (D2S2) dengan laju asimilasi bersih terbaik yaitu 0,012 gram/cm2/hari,
dan tidak berbeda nyata dengan perlakuan (D2S3),
(D3S1), (D3S2), (D3S3), (D2S0), (D1S1), (D1S3), (D0S1), (D0S3) dan berbeda dengan semua kombinasi perlakuan lainya,
sedangakan
laju asimilasi bersih paling rendah dihasilkan dari perlakuan (D0S0) yaitu 0,005 gram/cm2/hari.
Dan
laju asimilasi bersih 28-35 hst memperlihatkan bahwa
interaksi perlakuan darah sapi yang difermentasi dan super gib cair memberikan pengaruh yang nyata, dimana perlakuan terbaik dihasilkan
pada kombinasi
darah sapi
yang difermentasi 200 ml/l dan pemberian super gib cair 1,0 ml/l (D2S2) dengan
laju pertumbuhan relatif terbaik yaitu 0,037 gram/cm2/hari,
dan tidak berbeda nyata dengan perlakuan (D3S2),
(D1S3), (D0S3), (D3S1) dan berbeda nyata dengan semua
kombinasi perlakuan lainya, sedangakan laju asimilasi bersih paling rendah dihasilkan dari perlakuan (D0S0) yaitu 0,023 gram/cm2/hari.
Pada tabel 4. Menunjukkan
laju asimilasi bersih tanaman terung telunjuk mengalami penurunan pada umur
21-28. Penurunan nilai LAB tanaman
terung telunjuk pada umur 21-28 hst ini
disebabkan karena struktur kanopi yang
saling menaungi antar daun dan mengakibatkan penurunan laju fotosintesis. Berkurangnya
cahaya menyebabkan terjadinya tumpukan nitrogen. Peningkatan nitrat tersebut
disebabkan berkurangnya energi yang dibutuhkan oleh enzim nitrat reduktase
untuk mereduksi nitrat menjadi nitrit. Penghambatan proses fotosintesis serta
tumpukan nitrat pada akhirnya menurunkan produksi biomas tanaman.
Sementara itu
pada umur 14-21 laju asimilasi bersih
tanaman terung telunjuk lebih tinggi
dari umur 21-28 hst, hal ini terjadi
karena pada kondisi umur 14-21 hst jumlah daun tanaman terung telunjuk sedikit, ukuran daun relatif lebih kecil sehingga
tidak saling menaungi dan hampir semua
daun masih efektif melakukan fotosintesis. Luas daun tanaman berpengaruh erat terhadap
laju asimilasi bersih tanaman. Daun-daun yang secara aktif melakukan
fotosintesis sangat berpengaruh terhadap
laju asimilasi bersih tanaman, sedangkan daun-daun yang tidak aktif
misalnya daun yang sudah tua atau
ternaungi akan menurunkan laju asimilasi bersih.
Pada umur 28-35
hst terjadi peningkatan, hal ini
karna banyaknya daun muda yg muncul sehingga dapat meningkatkan laju asimilasi bersih tanaman. Sebaliknya,
daun-daun yg lebih tua pada dasar tajuk dan terlindung mempunyai laju asimilasi
CO2 yang rendah.
Buntoro (2014),menambahkan
daun muda mampu menyerap cahaya paling
banyak, memiliki laju fotosintesis yang tinggi, dan mentranslokasikan sebagian besar fotosintat ke bagian tanaman
yang lain termasuk pada daun-daun bagian bawah. Sedangkan pada daun yang berada
pada bagian bawah, laju fotosintesis lebih lambat karena ternaungi oleh daun bagian
atas.
Untuk lebih jelasnya laju asimilasi
bersih pada tanaman terung telunjuk pada masing-masing hari dengan perlakuan Darah
sapi yang difermentasi dan Super Gib cair dapat dilihat pada gambar 2a.
Laju
asimilasi bersih (gram/cm²/hari)
Gambar
2a. Grafik laju asimilasi Bersih (gram/cm²/hari) tanaman terung telunjuk dengan
perlakuan Darah sapi yang difermentasi dan Super Gib cair.
Umur Berbunga (hari)
Hasil pengamatan
terhadap umur berbunga tanaman terung telunjuk setelah dilakukan analisis ragam memperlihatkan bahwa baik secara interaksi maupun pengaruh utama darah sapi yang
difermentasi dan super gib cair memberikan
pengaruh yang nyata terhadap umur berbunga tanaman terung telunjuk. Rata-rata umur berbunga setelah di uji lanjut BNJ pada taraf
5% dapat dilihat dari tabel 3.
Tabel 5. Rata-rata umur
berbunga dengan perlakuan darah sapi yang
difermentasi dan super gib
cair (hari).
|
Darah Sapi yang difermentasi (ml/L) |
Super Gib Cair (ml/L) |
Rata-rata |
|||
|
0 (S0) |
0,1 (S1) |
1,0 (S2) |
10 (S3) |
||
|
0 (D0) |
40,50 f |
37,67 ef |
36,00 c-e |
34,17 a-c |
37,08 c |
|
100 (D1) |
37,83 ef |
36,83 de |
34,67 a-c |
34,83 a-c |
36,04 b |
|
200 (D2) |
36,00 c-e |
35,00 a-d |
33,17 a |
35,17 b-d |
34,83 a |
|
300 (D3) |
36,83 de |
35,33 b-d |
34,00 ab |
36,00 c-e |
35,54 a |
|
Rata-rata |
37,79 c |
36,21 b |
34,46 a |
35,04 a |
|
|
KK= 1,79% BNJ SD =
1,95 BNJ S&D =
0,71 |
|||||
Angka pada baris
dan kolom yang diikuti huruf kecil yang sama tidak berbeda nyata menurut uji
BNJ pada taraf 5%.
Berdasarkan data pada tabel 5, memperlihatkan
bahwa interaksi perlakuan darah sapi yang difermentasi dan super gib cair memberikan pengaruh terhadap umur berbunga, dimana perlakuan terbaik
dihasilkan pada kombinasi darah sapi yang difermentasi 200 ml/l dan pemberian super gib cair 1,0 ml/l dan (D2S2) dengan umur
berbunga paling cepat yaitu 33,17 hari hst, dan tidak berbeda
nyata dengan perlakuan
(D3S2), (D1S2), (D1S3), (D0S3), (D2S1) dan berbeda
nyata dengan kombinasi perlakuan lainya, sedangakan umur
berbunga paling
lama dihasilkan dari perlakuan (D0S0) yaitu 40,50 hari hst. Lebih cepatnya umur berbunga dengan
pemberian darah sapi yang difermentasi disebabkan karena adanya kandungan unsur
N, P, K yang dapat menunjang pertumbuhan dengan dikombinasikan super gib cair
disebabkan karna adanya kandungan hormon giberelin yang dapat menunjang
pembungaan tanaman terung. Dengan adanya kandungan giberelin pada super gib cair
maka akan memberikan tambahan zat pengatur tumbuh dalam pertumbuhan tanaman,
terutama umur berbunga tanaman.
Lamanya
umur berbunga pada perlakuan tanpa darah sapi yang difermentasi dan super gib
cair (D0S0) dikarenakan tidak terpenuhinya unsur hara yang dibutuhkan tanaman
untuk proses pembentukan bunga. Sedangkan pengaruh pemberian darah sapi yang
difermentasi 200 ml/ l air dengan dikombinasikan super gib cair 1,0 ml/l air dapat
menghasilkan umur berbunga lebih cepat,
hal ini dikarenakan dengan adanya pemberian darah sapi yang difermentasi dan super
gib cair dengan yang cukup maka dapat meningkatkan tingkat kesuburan tanah
sehingga dapat mempercepat inisiasi pembungaan.
Umur Panen (hari)
Hasil pengamatan
terhadap umur panen tanaman terung telunjuk setelah
dilakukan analisis
ragam memperlihatkan bahwa baik secara interaksi maupun
pengaruh utama darah sapi yang difermentasi dan super gib cair dan memberikan pengaruh yang nyata
terhadap umur panen tanaman terung telunjuk.
Rata-rata umur panen
setelah di uji lanjut BNJ pada taraf 5% dapat dilihat
dari tabel 6.
Tabel 6. Rata-rata umur panen dengan perlakuan darah sapi yang
difermentasi dan super gib
cair (hari).
|
Darah Sapi yang difermentasi (ml/L) |
Super Gib Cair (ml/L) |
RERATA |
|||
|
0 (S0) |
0,1 (S1) |
1,0 (S2) |
10 (S3) |
||
|
0 (D0) |
68,00 d |
67,17 d |
67,33 d |
65,42 b-d |
66,98 c |
|
100 (D1) |
66,08 cd |
64,75 b-d |
64,33 a-d |
63,92 a-d |
64,77 b |
|
200 (D2) |
65,58 b-d |
61,50 a-c |
60,00 a |
63,67 a-d |
62,69 a |
|
300 (D3) |
66,50 d |
65,50 b-d |
61,07 ab |
63,50 a-d |
64,14 ab |
|
RERATA |
66,54 c |
64,73 ab |
63,18 a |
64,13 ab |
|
|
KK = 2,34 % BNJ S & D = 1,68 BNJ SD = 4,60 |
|||||
Angka pada baris
dan kolom yang diikuti huruf kecil yang sama tidak berbeda nyata menurut uji
BNJ pada taraf 5%.
Berdasarkan data pada tabel 6, memperlihatkan bahwa interaksi
perlakuan darah sapi yang difermentasi dan pemberian super gib cair memberikan pengaruh terhadap umur panen tanaman, dimana perlakuan
terbaik dihasilkan pada kombinasi darah sapi yang
difermentasi 200 ml/l dan pemberian super gib cair 1,0 ml/l air dan (D2S2) dengan umur panen tercepat yaitu 60,00 hari, dan tidak berbeda nyata dengan perlakuan (D3S2),
(D2S1), (D3S3), (D2S3), (D1S2), (D1S3), dan berbeda
dengan semua kombinasi perlakuan lainya, umur panen paling lama dihasilkan dari perlakuan (D0S0) yaitu 68,00 hari.
Lebih cepatnya
umur panen pada kombinasi perlakuan D2S2
diduga akibat pengaruh unsur hara dari kombinasi darah sapi yang difermentasi 200 ml/l air dan super
gib cair 1,0 ml/l air mampu memenuhi kesuburan tanaman terung dengan baik sehingga proses fotosintesis berlangsung lebih baik yang
pada akhirnya mampu mempercepat proses perkembangan dan pemasakan buah terung sehingga cepat memenuhi kriteria panen. Kecepatan pembungaan
juga membantu tanaman terung dalam mempercepat umur panen karena proses
pembentukan, pertumbuhan dan pemasakan buah lebih cepat dimulai. Pematangan
buah mengacu kepada tahap akhir dari perkembangan buah yang meliputi pembesaran
sel, akumulasi karbohidrat dan penurunan
asam-asam amino yang muncul dari efek pemenuhan hara, air dan kecepatan nutrisi
bunga pada tanaman tersebut.
Pada
perlakuan lainnya, umur panen belum mampu dipercepat diduga karena pengaruh
inisiasi bunga yang belum mampu dipercepat akibat asupan hara dan perbaikan kondisi tanah belum
berlangsung dengan baik karena dosis pemupukan super gib cair dan darah sapi
yang belum sesuai. Pertumbuahan dan perkembangan tanaman sangat dipengaruhi
oleh tingkat kesuburan tanah semakin tinggi tingkat kesuburan tanah maka,
ketersediaan hara yang dibutuhkan tanaman untuk tumbuh dan berkembang akan
terpenuhi. Dengan demikian pertumbuhan dan perkembangan tanaman dapat terjadi
karena proses metabolism dalam tubuh tanaman menjadi lancar terutama dalam umur panen. Unsur yang terdapat pada
darah sapi setelah difermentasikan analisis P,K dan Mg yang tinggi, dapat
mempercepat masa pembungaan, pembuahan dan panen.
Berat Buah Per Tanaman (gram)
Hasil pengamatan
terhadap berat buah per
tanaman terung telunjuk setelah
dilakukan analisis
ragam memperlihatkan bahwa baik secara interaksi maupun pengaruh
utama darah sapi yang
difermentasi dan super gib cair dan
memberikan pengaruh yang nyata terhadap berat
buah pertanaman terung telunjuk. Rata-rata berat
buah per
tanaman setelah di uji lanjut BNJ pada taraf 5% dapat
dilihat dari tabel 7.
Tabel 7. Rata-rata berat buah per tanaman dengan perlakuan darah sapi yang
difermentasi dan super gib (gram).
|
Darah Sapi yang difermentasi (ml/L) |
Super Gib Cair (ml/L) |
Rata-rata |
|||
|
0 (S0) |
0,1 (S1) |
1,0 (S2) |
10 (S3) |
||
|
0 (D0) |
592,09 k |
719,43 i |
779,43 h |
909,77 e |
750,18 d |
|
100 (D1) |
669,42 j |
728,98 i |
794,87 h |
940,77 d |
783,51 b |
|
200 (D2) |
839,42 g |
959,49 c |
1080,10 a |
1020,13 b |
974,79 a |
|
300 (D3) |
659,43 j |
729,97 i |
789,43 h |
879,43 f |
764,57 c |
|
Rata-rata |
690,09 d |
784,47 c |
860,96 b |
937,53 a |
|
|
KK= 1,03 % BNJ SD = 25,70 BNJ S&D = 9,36 |
|||||
Angka pada baris
dan kolom yang diikuti huruf kecil yang sama tidak berbeda nyata menurut uji
BNJ pada taraf 5%.
Berdasarkan
data pada tabel 7, memperlihatkan bahwa interaksi perlakuan darah sapi yang
difermentasi dan pemberian super gib cair memberikan pengaruh terhadap berat buah per tanaman, dimana perlakuan terbaik dihasilkan pada kombinasi darah sapi
yang difermentasi 200 ml/l dan pemberian super gib cair 1,0
ml/l (D2S2) dengan berat buah
per
tanaman yaitu 1080,10 gram, dan berbeda dengan semua
kombinasi perlakuan lainya, sedangkan
berat
buah per tanaman terendah dihasilkan
dari perlakuan (D0S0) yaitu 592,09 gram.
Lebih baiknya kombinasi perlakuan D2S2 dalam menghasilkan berat buah per
tanaman hal ini dikarenakan dengan pemberian darah sapi yang
difermentasi 200 ml/l air dapat diserap oleh tanaman dengan optimal. Pemberian
darah sapi yang difermentasi 200 ml/ l air kondisi tanah menjadi subur yaitu
dengan semakin meningkatnya aktivitas mikroorganisme dalam tanah, dengan
terpenuhinya unsur hara bagi tanaman
maka proses metabolisme dalam
tubuh tanaman seperti fotosintesis dapat berlangsung dengan baik.
Semakin tingginya proses fotosintesis
maka asimilat yang dihasilkan akan
semakin tinggi dan dapat ditranslokasikan ke organ hasil yaitu buah. Dengan demikian buah terung yang
dihasilkan akan semakin tinggi.
Syarif (2005)
mengemukakan bahwa setiap pemberian pupuk organik memiliki respon yang tidak
sama, untuk menghasilkan produksi yang optimal harus melakukan
tindakan pemupukan yang
disesuaikan dengan kondisi
tanah dan pemilihan varietas
tanaman. setiap varietas akan membutuhkan pupuk yang berbeda jumlahnya
untuk menunjang pertumbuhan dan menghasilkan produksi yang lebih baik,
penggunaan pupuk organik pada prinsipnya meminimalkan penggunaan sarana bahan
kimia dan mengoptimalkan penggunaan sarana
produksi organik yang terbuat
dari bahan atau
limbah bahan organik
pertanian yang dapat
dimanfaatkan dalam proses
budidaya tanaman.
Pemberian super
gib cair memberikan hormon giberelin dengan dosis yang tepat pada tanaman
terung telunjuk, sehingga memberikan berat buah terberat dibandingakan dengan
kombinasi lainnya. Kombinasi yang tepat dari perlakuan ini memberikan
pertumbuhan tanaman yang baik, sehingga akan menghasilkan produksi yang baik
pula.
Sesuai dengan pendapat Annisah (2009) bahwa Super
Gib Cair mengandung hormon giberelin 40% yang berpengaruh terhadap
pembentangan sel-sel, pembungaan dan
pembuahan. Hormon tanaman dapat diartikan secara luas, baik yang buatan maupun yang asli
serta yang mendorong ataupun yang menghambat
pertumbuhan, Super Gib Cair juga mampu menginduksi terjadinya pembelahan pada sel-sel buah sehingga ukuran
buah bertambah dan mempengaruhi berat buah.
Jumlah Buah Per Tanaman (buah)
Hasil pengamatan terhadap jumlah buah per tanaman terung telunjuk setelah
dilakukan analisis ragam memperlihatkan bahwa interaksi darah sapi
yang difermentasi dan super gib cair tidak memberikan pengaruh yang nyata.
Namun pengaruh utama darah sapi yang difermentasi dan super gib cair memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah buah per tanaman tanaman terung
telunjuk.
Rata-rata
jumlah buah per tanaman setelah di uji lanjut BNJ pada tarap 5% dapat dilihat pada tabel 8.
Tabel 8. Rata-rata jumlah buah per tanaman dengan perlakuan darah sapi yang
difermentasi dan super gib cair (buah).
|
Darah Sapi yang difermentasi (ml/L) |
Super Gib Cair (ml/L) |
Rata-rata |
|||
|
0 (S0) |
0,1 (S1) |
1,0 (S2) |
10 (S3) |
||
|
0 (D0) |
16,42 |
21,00 |
24,75 |
21,08 |
20,81 c |
|
100 (D1) |
20,42 |
17,25 |
25,92 |
22,83 |
21,60 c |
|
200 (D2) |
22,50 |
23,50 |
28,92 |
25,42 |
25,08 a |
|
300 (D3) |
21,00 |
20,75 |
28,42 |
22,50 |
23,17 b |
|
Rata-rata |
20,08 c |
20,63 c |
27,00 a |
22,96 b |
|
|
KK=
7,73 % BNJ
S&D = 1,94 |
|||||
Angka pada baris
dan kolom yang diikuti huruf kecil yang sama tidak berbeda nyata menurut uji
BNJ pada taraf 5%.
Berdasarkan
tabel 8. pengaruh utama darah sapi yang difermentasi memberi pengaruh yang nyata terhadap jumlah buah per tanaman tanaman
terung telunjuk, dimana perlakuan terbaik terdapat pada darah sapi
yang difermentasi 200 ml/l (D2) dengan jumlah buah per tanaman 25,08 buah, diikuti oleh pemberian darah sapi yang
difermentasi 300 ml/l (D3) dengan jumlah buah per tanaman yaitu 23,17 buah dan jumlah buah per
tanaman terendah terdapat
pada kontrol tanpa
darah sapi
yang difermentasi (D0) yaitu 20,18 buah. Ini diduga
ketersedian hara dalam darah sapi yang difermentasi dengan unsur N (25.7 ppm),
P (196 ppm), K (608 ppm), Mg (107 ppm) kurang mencukupi hara yang dibutuhkan
tanaman. Perlakuan darah sapi yang difermentasi 200 ml/l membantu proses
pembentukan buah pada tanaman terung, sehingga menghasilkan buah yang lebih
banyak dibandingkan dengan perlakuan
lainnya. Selain itu dengan pemberian pupuk organik cair darah sapi, akar
tanaman dapat menyerap unsur hara yang dibutuhkan tanaman dalam pembentukan
buah yaitu unsur Fospor. Jika Fospor tersedia dengan jumlah yang optimal pada
proses pembentukan buah maka tanaman akan menghasilkan jumlah produksi yang
maksimal.
Tanaman terung
telunjuk dengan tanpa pemberian perlakuan darah sapi lebih rendah
dari perlakuan pemberian
darah sapi yang difermentasi 200 ml/l air, diduga karena
pengaruh kurangnya unsur hara yang tersedia tidak mampu memenuhi kebutuhan
tanaman terung dan menyebabkan tidak optimalnya pembentukan buah pada tanaman
terung telunjuk.
Pemberian pupuk
organik cair dapat meningkatkan jumlah daun, jumlah cabang, luas daun, indeks
luas daun, panjang akar, volume akar, jumlah buah, dan berat buah per tanaman,
dengan adanya pemberian pupuk organik cair darah sapi dapat meningkatkan kualitas hijauan terutama
kandungan protein.
Berdasarkan tabel
8. Menunjukkan bahwa pengaruh utama pemberian
super
gib cair
memberi pengaruh
yang nyata terhadap jumlah buah per
tanaman terung telunjuk, dimana perlakuan terbaik terdapat pada pemberian super gib cair 1,0 ml/l (S2) dengan jumlah buah pertanaman 27,00 buah dan jumlah buah per tanaman terendah terdapat pada kontrol tanpa
pemberian super gib cair (S0) yaitu 20,08 buah.
Jumlah buah per tanaman pada perlakuan
S2 (1,0 ml/l ) yaitu 27,00 buah karena kandungan
ZPT atau
hormon tumbuhan yang
terdapat di dalam super gib cair yaitu
hormon gibberelin dapat dimanfaatkan
dengan optimal, dan merupakan
konsentrasi yang tepat dalam pemberiannya, karena super gib cair mengandung
hormon giberelin, yang merupakan ZPT alami. Jika ZPT diberikan dalam jumlah
yang sedikit atau berlebih maka akan memberikan dampak yang sama pada tanaman,
yaitu dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan tanaman itu sendiri.
Menurut Yesinta
(2010) super Gib Cair mengandung hormon giberelin 40% merupakan hormon yang
mempercepat perkecambahan biji, kuncup tunas, pemanjangan batang,pertumbuhan daun,
merangsang pembungaan, perkembangan buah, mempengaruhi pertumbuhan dan
deferensisi akar. Giberelin bukan hanya memacu perpanjangan batang saja, tapi
pertumbuhan seluruh tumbuhan termasuk daun dan akar.
Tanaman dalam metabolismenya
ditentukan oleh ketersediaan unsur hara pada tanaman terutama unsur N, P, K dalam
jumlah yang cukup sehingga mempengaruhi jumlah buah tanaman tersebut. Sedangkan rendahnya jumlah
buah pada perlakuan S0 (tanpa perlakuan) yaitu 20,08 buah
disebabkan karena unsur hara yang diperlukan untuk
pertumbuhan tanaman kurang tersedia sehingga
pertumbuhan kurang optimal. Pertumbuhan
dan perkembangan tanaman tidak terlepas dari pada fungsi unsur hara itu sendiri
semakin tersedia unsur hara yang
ada didalam tanah maka akan dimanfaatkan
oleh tanaman dalam pertumbuhan generatif maupun vegetatif. Karena pada dasarnya
tanaman memerlukan unsur hara yang
seimbang dengan pemberian konsentrasi yang optimal, dimana unsur hara
yang optimal dapat memacu pertumbuhan vegetatif dan generatif.
Jumlah Buah Sisa (buah)
Hasil
pengamatan terhadap jumlah buah sisa tanaman terung telunjuk setelah dilakukan analisis ragam memperlihatkan bahwa interaksi darah sapi yang
difermentasi dan super gib cair tidak
memberikan
pengaruh
yang nyata. Namun
pengaruh utama darah sapi yang
difermentasi dan super gib
cair memberikan pengaruh yang nyata
terhadap jumlah buah sisa tanaman terung telunjuk.
Rata-rata
jumlah buah sisa
setelah di uji lanjut BNJ pada tarap 5% dapat dilihat pada tabel 9.
Tabel 9. Rata-rata jumlah buah sisa
dengan perlakuan
darah sapi yang difermentasi dan super gib
cair (buah).
|
Darah Sapi yang difermentasi (ml/L) |
Super Gib Cair (ml/L) |
Rata-rata |
|||
|
0 (S0) |
0,1 (S1) |
1,0 (S2) |
10 (S3) |
||
|
0 (D0) |
3,33 |
3,50 |
4,42 |
4,25 |
3,88 c |
|
100 (D1) |
4,08 |
4,33 |
6,00 |
5,75 |
5,04 b |
|
200 (D2) |
4,50 |
5,25 |
7,25 |
6,17 |
5,79 a |
|
300 (D3) |
3,58 |
4,42 |
5,67 |
5,25 |
4,73 b |
|
Rata-rata |
3,88 c |
4,38 b |
5,83 a |
5,35 a |
|
|
KK=
11,26 % BNJ S&D = 0,61 |
|||||
Angka pada baris
dan kolom yang diikuti huruf kecil yang sama tidak berbeda nyata menurut uji
BNJ pada taraf 5%.
Berdasarkan tabel 9. Pengaruh utama
darah sapi
yang difermentasi memberi pengaruh yang
nyata terhadap jumlah buah sisa tanaman terung telunjuk, dimana perlakuan terbaik terdapat pada darah sapi yang
difermentasi 200 ml/l (D2) dengan jumlah buah sisa yaitu 5,79 buah, dan jumlah buah sisa terendah terdapat pada kontrol tanpa darah sapi yang
difermentasi yaitu 3,88 buah.
Berdasarkan tabel 9. Pengaruh utama pemberian super gib cair
memberi pengaruh yang nyata terhadap
jumlah buah sisa tanaman terung telunjuk, dimana
perlakuan terbaik terdapat
pada pemberian super gib cair 1,0 ml/l (S2)
dengan
jumlah buah
sisa yaitu 5,83
buah dan diikuti oleh pemberian super gib cair 10 ml/l dengan jumlah buah sisa 5,35 buah sedangkan jumlah buah sisa terendah terdapat pada tanpa
pemberian super gib cair (S0) yaitu 3,88 buah.
Lebih banyaknya jumlah buah
sisa tanaman terung yang
dihasikan melalui pemberian super gib cair dengan konsentrasi 1,0 ml/l air, hal
ini dikarenakan pada konsentrasi
tersebut merupakan konsentrasi yang tepat
sehingga dapat memenuhi asupan nutrisi
yang diserap oleh tanaman. Sebagaimana menurut Hidayati ( 2015) cara aplikasi Super Gib Cair
yang baik adalah dengan mencampurkan dan melarutkan dalam air kemudian disemprotkan
ke daun tanaman, untuk pemakaian ke
tanaman setiap 1 ml Super Gib dilarutkan dengan 1 liter air. Disemprotkan ke permukaan daun. Penyemprotan dilakukan pagi hari
atau sore hari.
Pemberian zat
pengatur tumbuh pada jumlah yang optimum akan merangsang aktivitas giberelin, perpanjangan
dan pembelahan sel pada jaringan meristematik sehingga berpengaruh terhadap
pertumbuhan. Proses pertama yang dirangsang giberelin terhadap pertumbuhan
vegetatif adalah perpanjangan sel, perbesaran sel, pembelahan sel, deferensiasi
sel yang meliputi pembentukan akar (Hardjowigeno, 2003).
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Dari
hasil penelitian yang telah dilaksanakan dapat diambil kesimpulan bahwa:
1.
Interaksi darah sapi yang difermentasi dan
super gib cair berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, laju pertumbuahan relatif (LPR), laju asimilasi
bersih (LAB), umur berbunga, umur panen, berat buah per tanaman. perlakuan
terbaik adalah darah sapi yang difermentasi 200 ml/l air dan super gib cair 1,0 ml/ l air dan (D2S2).
2. Pengaruh
utama darah sapi yang difermentasi berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman,
laju pertumbuahan relatif (LPR), laju asimilasi bersih (LAB), umur berbunga,
umur panen, berat buah per tanaman, jumlah buah per tanaman, jumlah buah sisa.
Perlakuan terbaik adalah darah sapi yang difermentasi 200 ml/
l air (D2).
3.
Pengaruh utama super gib cair
berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, laju pertumbuahan relatif (LPR),
laju asimilasi bersih (LAB), umur berbunga, umur panen, berat buah per tanaman,
jumlah buah per tanaman, jumlah buah sisa. Perlakuan terbaik adalah super gib
cair 1,0 ml/ l air (S2).
Saran
Berdasarkan
dari hasil penelitian pemberian fermentasi darah sapi dan super gib cair
terhadap tanaman terung disarankan penelitian lanjutan dengan perlakuan
fermentasi darah sapi 200 ml/l air, dan ZPT Super Gib cair harus diperhatikan kembali berapa kali pemberian
harus dilakukan dan diberikan sesuai dosis yang dianjurkan.
DAFTAR
PUSTAKA
Abrianto,
W. 2011. Mari Mengolah Limbah Darah sapi limbah RPH Untuk PakanIkan Dan Pupuk
Tanaman. www. Dunia sapi. Com. Diakses tanggal 12 Juli 2016.
Annisah,
2009. Pengaruh Induksi Hormon Giberelin terhadap Pembentukan Buah Partenokarpi
pada Beberapa Varietas Tanaman Semangka. Skripsi. Tidak dipublikasikan. Medan:
Universitas Sumatera Utara.
Anonimus..2015.
Tanaman Terung. Badan Pusat Statistik Provinsi Riau
Arinong, R dan
C.D, Lasiwa. 2011. Aplikasi Pupuk Organik Cair Terhadap Pertumbuhan Dan
Produksi Tanaman Sawi. Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian Gowa. Jurnal
Agrisistem, juni 2011, Vol.(7) No. 1.
Firmanto,
B. 2011.Sukses bertanaman terung. Angkasa, Bandung.
Hidayati,N.2015.SuperGibZptAndalanPetani.http://www.lmgaagro.web.id/2015/07/super-gib-zpt-andalan-petani.html.
Diakses pada 30 Januari 2017.
Iskandar,
D. 2003. Pengaruh Dosis Pupuk N, P, K Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Jagung
Manis di Lahan Kering. Prosiding Seminar Teknologi untuk Negeri 2003,
Vol. II, hal. 1-5 /HUMAS-BPPT/ANY.
Putriyani,
A. 2016. Pengaruh Limbah Cair Darah Sapi dan Pupuk Urea Terhadap Pertumbuhan
dan Hasil Tanaman Seledri (Apium
graveolens L). Skripsi Fakultas Pertanian. Universitas Islam Riau.
Salisburry, F.B dan C.W.Ross. 1996.
Fisiologi Tumbuhan. Institut Teknologi Bandung. Bandung. http://jurnal-agriba.info/wp-content/uploads/2015/08/2-Noviriani.pdf di
akses 25 juli 2017
